KERANGKA DASAR AJARAN ISLAM

A.      Aqidah, syariah dan akhlak

 

Secara garis besar, ajaran Agama Islam mengandung tiga hal pokok, yaitu aspek keyakinan (credial, credo), aspek ritual dan aspek perilaku (behavioral). Aspek ajaran Islam yang berkaitan dengan keyakinan disebut aqidah atau keimanan, sedangkan aspek ritual, norma atau hukum disebut syariah. Adapun aspek yang berkaitan dengan perilaku disebut akhlak.

Aspek keyakinan disebut ‘aqidah, yaitu suatu ikatan seseorang dengan Tuhan yang diyakininya. ‘Aqidah berasal dari bahasa Arab yang berarti ikatan atau sesuatu yang mengikat. Tiap agama memiliki aqidah masing-masing yang mengikat keyakinan umatnya, seperti Trinitas sebagai aqidah Kristen, yakni keyakinan terhadap Tuhan yang terdiri dari Tuhan Bapa, Anak dan Ruh Kudus.

Aqidah Islam adalah tauhid, yakni meyakini keesaan Tuhan baik dalam Dzat maupun Sifat-Nya. Keesaan Allah dalam Islam didasarkan kepada firman Allah sendiri; bukan hasil pikiran manusia, sebagaimana firman Allah:

Katakanlah (Muhammad): Dia-lah Allah Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula diperanakkan. Dan Tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia.

QS.Al-Ikhlas: 1-3

Kata Tauhid berasal dari bahasa Arab, bentuk masdar dari kata wahhada yuwahhidu yang secara etimologis berarti keesaan. Yakni percaya bahwa Allah swt itu satu. Dengan demikian yang dimaksud tauhid di sini tidak lain adalah tauhidullah (mengesakan Allah swt).

Mempelajari tauhid menurut para ulama hukumnya wajib bagi setiap muslim. Rasulullah saw sendiri diperintahkan oleh Allah swt mengajak umat manusia kepada ajaran Tauhid sebagaimana yang dijelaskan oleh Allah dalam qur’an surat Al Ikhals di atas. Ajaran Tauhid ini oleh Allah swt bukan hanya diturunkan kepada Nabi Muhamad, melainkan juga kepada Nabi/Rasul terdahulu, mulai dari Nabi Adam as sampai Nabi Isa as, Ini disebutkan dalam semua kitab Injil. Seperti dalam Injil Yahya pasal 17 ayat 3 disebutkan secara gambling “Inilah hidup yang kekal yaitu agar mereka mengenal Engkau, Allah yang Esa dan benar dan Yesus Kristus yang telah Engkau suruhkan itu

Ajaran Tauhid sangat positif bagi hidup dan kehidupan, sebab tauhid mengandung sifat-sifat sebagai berikut :

  1. Melepaskan jiwa manusia dari kekacauan dan kegoncangan hiudup yang dapat membawanya ke dalam kesesatan.
  2. Sebagai sumber dan motivator perbuatan kebijakan dan keutamaan
  3. Membimbing umat manusia ke jalan yang benar dan mendorongnya mengajarkan ibadah penuh ikhlas.
  4. Membawa manusia kepada keseimbangan dan kesempurnaan hidup lahir batin.

Aqidah Islam (Tauhid) sebagai fondamen agama Islam menjadi dasar bagi keislaman seseorang. Aqidah bukan hanya pengetahuan atau kepercayaan, tetapi keyakinan yang membawa konsekuensi membentuk tingkah laku atau sikap tertentu. Karena itu keyakinan atau iman ditampilkan dalam suatu keseluruhan tingkah laku, baik itikad dalam hati, ucapan mulut, maupun tingkah laku yang tampak. Iman didefinisikan sebagai berikut:

Mengikrarkan dengan mulut, membenarkan dengan hati, dan melaksanakan dengan seluruh anggota tubuh.

Syari’ah adalah aturan atau hukum yang mengatur hubungan manusia dengan Allah, manusia dengan manusia dan manusia dengan alam. Hukum Islam terdiri dari wajib, sunnat, mubah, makruh, dan haram.

  1. Wajib adalah sesuatu yang apabila dilakukan diberi pahala dan apabila ditinggalkan disiksa.
  2. Sunnat adalah sesuatu yang apabila dilakukan diberi ganjaran dan apabila ditinggalkan tidak disiksa,namun rugi tida mendapat pahala sunnat.
  3. Haram, yaitu apabila dilakukan disiksa, apabila ditinggal diberi pahala.
  4. Makruh, apabila dilakukan tidak disiksa dan apabila ditinggalkan diberi ganjaran.
  5. Mubah adalah apabila dilakukan atau ditinggalkan tidak diberi pahala maupun siksa.

Adapun akhlak adalah aspek perilaku yang tampak pada diri seseorang dalam hubungan dengan dirinya, sesama manusia, dan alam sekitarnya.

Aqidah, syariah dan akhlak merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisah-pisahkan. Seseorang dikatakan beraqidah atau berimana manakala hidupnya telah melaksanakan syari’ah. Apabila syari’ah telah dilaksanakannya, ia akan tampil dengan perilaku yang baik disebut akhlak. Oleh karena itu, hubungan aqidah, syari’ah dan akhlak adalah hubungan yang saling terkait satu dengan yang lain. Aqidah adalah keyakinan yang mendorong seseorang melaksanakan syari’ah, apabila syari’ah telah dilaksanakan berdasarkan aqidah, maka akan tampil perilaku yang disebut akhlak.

 

B.      Agama Islam dan ilmu-ilmu keislaman

 

Agama Islam sebagai ajaran yang diturunkan oleh Allah kepada manusia tidak hanya dipandang sebagai suatu keyakinan saja, melainkan juga merupakan ajaran yang penuh dengan kandungan ilmu. Setiap aspek ajaran Islam berkembang membentuk ilmuilmu tersendiri antara lain:

  1. Aspek aqidah melahirkan ilmu kalam (teologi) yang mempelajarai sifat-sifat Allah dan hubungan antara wahyu dan akal. Dalam kajian ini terdapat aliaranaliran (madzhab) antara lain Khawarij, Murji’ah, Mu’tazilah, Asy’ariyah, dan Maturidiyah. Untu lebih jelasnya perhatikan penjelasan di bawah ini:

    Khawarij
    adalah aliran dalam teologi Islam yang pertamakali muncul. Dan juga merupakan aliran teologi kaum yang terdiri para pengikut Ali Ibn. Abi Thalibyang meninggalkan barisannya, karena tidak setuju terhadap sikap Ali Ibn Abi Thalib yang menerima Arbitrase sebagai jalan untuk menyelesaikan persengketaan khalifah dengan Muawiyah ibn Abu Sufyan. Sedangkan Menurut Ibnu Abi Bakar Ahmad al-Syahrastani dalam Abidin Nata (1993:29) menyebutkan bahwa yang disebut khawarij adalah setiap setiap orang yang keluar dari imama yang hak dan telah disepakati para jamaah, baik ia kelar pada masa sahabat Khulafaurrosyidin, atau pada masa tabi’in secara baik-baik.

    Murjiah adalah aliran yang muncul sebagai reaksi atas sikapnya yang tidak mau terlibat dalam upaya kafir mengkafirkan terhadap orang yang melakukan dosa besar, sebagaimana hal itu dilakukan oleh aliran Khawarij. Mereka menangguhkan penilaian terhadap orang-orang yang terlibat dalam pristiwa tahkim itu dihadapan Tuhan, karena hanya Tuhan lah yang mengetahui keadaan iman seseorang. Demikian pula orang mu’min yang melakukan dosa besar masih dianggap mumin di hadapan mereka. Jadi orang mukmin yang melakukan dosa besar masih tetap mukmin bukan kafir.

    Qodariyah adalah sebagai aliran dalam ilmu kalam, adalah merupakakn nama yang dipakai untuk suatu aliran yang memberikan penekanan terhadap kebebasan dan kekuatan manusia dalam menghasilkan perbuatan perbuatannya. Dalam paham ini manusia dipandang mempunyai kudrat atau kekuatan untuk melaksanakan kehendaknya, dan bukan berasal dari pengertian bahwa manusia terpaksa tunduk kepada qadar ata qada Tuhan.

    Jabariah berasal dari kata jabara yang mengandung arti memaksa. Posisi manusia dalam paham ini tidak memiliki kebebsan dan inisiatif sendiri, tetapi terikat pada kehendak mutlak Tuhan. Oleh karena itu aliran jabariah menganut paham bahwa manusia tidak mempunyai kemerdekaan dalam menentukan kehendak dan perbuatannya. Dalam paham ini manusia betul melakukan perbuatan, tetapi perbuatannya itu dalam keadaan terpaksa.

    Mu’tazilah adalah aliran yang mempunyai pandangan bahwa orang mukmin yang melakukan dosa besar, tidak mengatakan sebagai orang kafir dan mukmin, tetapi berada di antara keduanya, tidak mukmin dan tidak kafir.

    Asyariyah berpendapat bahwa kemauan dan daya untuk berbuat adalah kemauan dan daya Tuhan dan perbuatan itu sendiri, ditegaskan oleh Asy’ari, adalah perbuatan Tuhan bukan perbuatan manusia.

  2. Aspek ibadah melahirkan ilmu fiqih dan ushul fiqih. Dalam bidang ini terdapat aliran-aliran Malikiyah, Hanafiyah, Syafiiyah, dan Hanbaliyah.
  3. Aspek mu’amalah atau hubungan manusia dengan manusia lahir ilmu-ilmu fiqh mu’amalah. Dalam bidang ini terdapat aliran-aliran Malikiyah, Hanafiyah, Syafiiyah, dan Hanbaliyah.
  4. Aspek akhlak, etika, dan tata cara mendekatkan diri kepada Allah lahir ilmu tasawuf. Dalam bidang ini terdapat aliran Sunni dan syi’ah.
  5. Aspek filsafat yang membahas hakekat manusia, alam dan Tuhan melahirkan filsafat Islam. Dalam bidang ini terdapat aliran tradisional dan liberal.

Semua ilmu tersebut di atas pada dasarnya adalah hasil kajian yang mendalam yang semuanya merujuk kepada Alquran dan As-sunnah sebagai landasannya. Kendatipun terdapat berbagai pandangan (aliran) yang berbeda, tetapi tujuannya tetap satu, yaitu mencari keridhaan Allah Swt.

C.     Filsafat, tasawuf, dan pembaharuan dalam Islam

 

 1. Filsafat

Filsafat atau falsafah (bahasa Arab) berasal dari bahasa Yunani yaitu dari kata Philosophia. Philo atau philein berarti cinta (loving) dan sophos berarti pengetahuan, kebjaksanaan (hikmat). Philosophia artinya cinta kebijaksanaan. Orang yang cinta kepada kebijaksanaan atau pengetahuan disebut philosophos atau dalam bahasa Arab failasuf. Pencinta pengetahuan atau kebenaran adalah orang yang menjadikan pengetahuan sebagai usaha dan tujuan hidupnya atau orang yang mengabdikan dirinya kepada pengetahuan dan kebenaran.

Dalam bahasa Arab terdapat kata yang mirip dengan arti falsafah, yaitu hikmat. Hikmat sendiri asal maknanya adalah tali kendali (untuk kuda guna mengekang dari perilaku liarnya). Dari sini diambil kata hikmat itu dalam arti pengetahuan atau kebijaksanaan karena hikmat itu menghalangi orang yang memilikinya dari perbuatan rendah.

Istilah filsafat (philosophos) pertama kali digunakan oleh Phythagoras (abad VI SM), tetapi populer dan lazim dipakai pada masa Socrates dan Plato (Abad V SM). Pengertian filsafat secara terminologis banyak diungkapkan para ahli dalam berbagai formulasi karena itu sangat sulit untuk menemukan definisi yang tepat dan lengkap. Tetapi pada umumnya para ahli mengaitkan filsafat dengan berpikir yang mendalam, pengetahuan yang mendasar dan sebagainya yang bersifat prinsip dan berpikir. Dari berbagai pengertian tentang filsafat, dalam buku ini diambil salah satu definisi sebagai alternatif, yaitu definisi filasafat yang diungkapkan oleh Harun Nasution, yaitu berpikir menurut tata tertib (logika) dengan bebas (tidak terikat pada tradisi, dogma dan agama) dan dengan sedalamdalanya sehingga sampai ke dasar-dasar persoalan.

Dalam sejarahnya filsafat dengan ilmu pengetahuan itu satu dan merupakan sinonim. Semua pengetahuan termasuk bidang filsafat, tetapi lama kelamaan ilmu pengetahuan itu satu persatu memisahkan diri dari filsafat dan berdiri sendiri sebagai cabang ilmu pengetahuan, seperti masalah materi (fisika) yang merupakan salah satu bagian filsafat, kemudian berdiri menjadi ilmu fisika. Masalah jiwa yang mulanya lapangan filsafat berkembang menjadi ilmu jiwa (psikologi). Akhirnya tinggal dua bidang yang tetap melekat pada filsafat, yaitu apakah yang dapat aku ketahui, dan apakah yang harus aku kerjakan. Dua pertanyaan mendasar ini yang menjadi persoalan pokok filsafat. Semua persoalan kefilsafatan sekarang ini ternyata dapat dikembalikan kepada kedua persoalan itu, yang sebenarnya mempersoalkan hakekat dari realitas-realitas yang dihadapi dan dijumpai manusia yang dikatagorikan kepada tiga bagian, yaitu hakekat Tuhan, hakekat alam, dan hakekat manusia. Ketiga hakekat tersebut menjadi obyek material filsafat.

Pertemuan Islam dengan filsafat dimulai pada  abad VIII M atau abad II H ketika Islam berhasil mengembangkan sayapnya menjangkau daerah-daerah baru yang memiliki adat istiadat dan kebudayaan baru. Filsafat merupakan kebudayaan asing yang ditemui Islam dalam perjalanan sejarahnya. Sehingga pada abad pertengahan filsafat sudah diambil alih oleh umat Islam dengan menerjemahkan buku-buku filsafat Yunani ke dalam bahasa Arab. Gairah untuk mempelajari filsafat dan ilmu pengetahuan pada saat itu sangat besar karena pemerintah mendorong dan mempeloporinya. Karena itu tidak heran kalu dua imperium Islam waktu itu, Abbasiyah dengan ibu kotanya Baghdad di Timur dan Umayyah dengan ibu kotanya Cordova di Barat menjadi pusat peradaban dan menghasilkan para cendekiawan yang menjadi pelopor ilmu pengetahuan di dunia, seperti Alkindi (185-260 H/801-873 M), Alfaraby (258-339 H/870-950M), Alrazy (251-313 H/865-925 M), Ibn Sina (370-428 H/980-1037 M) dan lain-lain.

Sejarah menunjukkan bahwa dalam Islam filsafat dan ilmu pengetahuan mendapat tempat yang layak dan sama sekali tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Bahkan sebaliknya, Alquran secara tegas member kemungkinan bagi pemikliran filsafat itu. Ayat-ayat Alquran yang menyuruh manusia menggunakan pikirannya dengan menjadikan alam semesta (alkaununiversum) sebagai obyek pikirannya, di samping mendorong timbulnya ilmu pengetahuan yang amat berguna untuk kemakmuran hidup manusia, juga meransang munculnya pemikiran-pemikiran filosofis dalam Islam.

Filsafat sebagai proses berpikir dan mencari hakekat dari segala sesuatu, maka mungkinkah manusia memperoleh kebenaran yang hakiki?. Masalah ini telah lama menjadi perdebatan di kalangan kaum muslimin sejak mereka mengenal filsafat Yunani.

Alquran mengajarkan bahwa kebenaran yang hakiki (alhaq) itu hanya datang dari Allah:

Kebenaran (alhaq) itu datangnya dari Tuhanmu, karena itu janganlah kamu termasuk orang-orang yang ragu-ragu. (Ali Imran, 3:60)

Katakanlah: Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu, maka barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barangsiapa yang ingin (kafir) maka biarlah dia kafir. (QS. Alkahfi,18:29)

Berdasarkan penjelasan ayat-ayat diatas, maka kebenaran yang hakiki hanya bersumber dari Tuhan, karena itu segala sesuatu yang berasal dari Tuhan memiliki kebenaran yang bersifat mutlak (pasti); tidak perlu diragukan lagi. Islam mengakui disamping kebenaran hakiki, masih ada kebenaran yang bersifat nisbi, yaitu kebenaran yang dicapai oleh hasil usaha akal manusia. Akal adalah anugerah Allah, maka sewajarnya kalau mampu menghasilkan kebenaran, kendatipun kebenarannya itu bersifat relatif. Oleh karena itu jika kebenaran yang nisbi itu tidak bertentangan dengan isi ajaran Islam (Alquran dan hadis), maka kebenaran itu dapat saja dipergunakan dalam kehidupan. Firman Allah:

 

 

Dan orang-orang yang menjauhi thagut (yaitu) tidak menyembahnya dan kembali kepada Allah, bagi mereka berita gembira, sebab itu sampaikanlah berita itu kepada hamba-hamba-Ku. Yang mendengarkan perkataan (ide, pendapat) lalu mengikuti apa yang paling baik diantaranya. Mereka itulah orangorang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal. (QS.Al-zumar, 39:17)

Kebenaran filsafat bersifat spekulatif, karena ia berbicara abstrak dan kebenarannya tidak bisa diuji dan diriset. Sedangkan ilmu pengetahuan memiliki kebenaran positif, karena hasilnya bisa diuji dan diteliti secara empiris. Baik filsafat maupun ilmu pengetahuan memiliki kebenaran yang bersifat relatif atau nisbi, sedangkan kebenaran wahyu bersifat mutlak atau pasti.

Umat Islam mempelajaran filsafat bukanlah untuk dipertentangkan dengan wahyu, tetapi agar dapat mengambil manfaat dari akal pikiran yang bermacammacam itu untuk meningkatkan kualitas berpikir umat Islam. Dengan mempelajari filsafat, umat Islam dapat mengenal dan memahami dengan baik keunggulankeunggulan ajaran Islam itu sendiri dan dapat berpikir secara mendalam dan kritis, karena berpikir merupakan bagian dari pelaksanaan tugas kekhalifahan manusia.

Bagi umat Islam mempelajari filsafat tidak keluar dari pelaksanaan tugasnya untuk berpikir (tafakur) terhadap kekuasaan Allah Yang Maha Besar yang tidak terlepas dari mengingat (dzikir)-Nya. Dua hal ini merupakan upaya mengembangkan kualitas manusia dalam bentuk penguasaan ilmu pengetahuan yang didasari oleh keimanan yang kuat dan kokoh.

 

2. Tasawuf

 Tasawuf berasal adari kata suf yang berarti kain yang dibuat dari bulu binatang atau wool kasar, karena para pengamal tasauf (sufi) pada waktu lalu hanya mau menggunakan kain wool yang menggambarkan kesederhanaan.

Tasawuf dalam arti mistisisme ternyata tidak hanya terdapat dalam agama Islam, tetapi juga dalam berbagai agama. Dalam agama Budha dikenal dengan konsep nirwana yang dapat dicapai dengan cara meninggalkan dunia memasuki hidup kontemplasi. Hinduisme mengajarkan agar manusia meninggalkan dunia dan mendekati Tuhan untuk mencapai persatuan Atman dengan Brahman. Demikian pula konsep celibaat dalam agama Nasrani yang menjauhkan diri dari mencintai lawan jenis, demi kedekatan pada Tuhan. Kendatipun ajaran-ajaran tersebut mirip dengan perilaku sufisme di kalangan umat Islam, tetapi sampai sekarang sulit dibuktikan hubungannya antara tasawuf di kalangan umat Islam dengan kebiasaan-kebiasaan hidup yang berkembang pada agama-agama sebelumnya. Tetapi dengan atau tanpa pengaruh dari agama lain, sufisme bisa datang dari ajaran Islam sendiri.

Dalam Alquran, terdapat ayat-ayat yang menyatakan manusia dekat sekali dengan Tuhan:

 

Jika hambak-Ku bertanya kepadamu tentang diri-Ku, maka Aku dekat dan mengabulkan seruan yang memanggil jika Aku dipanggil. QS.Albaqarah,2:186

Timur dan Barat adalah kepunyaan Tuhan, ke mana saja kamu berpaling di situ ada wajah Tuhan.QS.Albaqarah,2:115

Dalam hadis ditemukan:

Orang yang mengetahui dirinya, itulah orang yang mengetahui Tuhan.

Melihat ayat-ayat dan hadis di atas, dapatlah dipahami adanya sufisme di kalangan umat Islam, apabila sufisme dipandang sebagai ajaran-ajaran tentang berada dekat dengan Tuhan. Jalan untuk dekat dengan Tuhan ditempuh oleh para sufi dengan berbagai cara (thariqahtarekat), mereka harus melalui stasion-stasion tertentu yang disebut maqamat.

Maqamat-maqamat yang biasa dilalui para sufi ternyata berbeda-beda diantara para ahli sufi. Abu Bakar Muhammad Al Kalabdi menyebutkan maqamat yang harus dilalui seorang sufi adalah: tobat, zuhd, shabar, faqr, tawadhu, taqwa, tawakkal, ridha, mahabbah, dan ma’rifah. Sedangkan Abu Nashr Al-Siraj Al-Thusi menyebutkan susunan maqamatnya sebagai berikut:

taubah, wara, zuhd, faqr, shabar, tawakkal, dan ridha. Sementara Al-Ghazali: faqr, zuhd, tawakkal, mahabbah, ma’rifat, dan ridha.

Dari susunan yang beragam itu, pada umumnya para sufi melewati maqam tobat, zuhd, sabar, tawakkal, dan ridha. Di atas stasion-stasion itu terdapat lagi mahabbah, ma’rifat, fana, baqa, dan ittihad. Ittihad dapat mengambil bentuk al hulul atau wahdatul wujud.

Untuk mencapai stasion-stasion itu, para sufi mengalaminya dengan tidak mudah, ia memerlukan latihan (riyadhah) terus menerus dan memakan waktu yang panjang hingga bertahun-tahun dan tidak sedikit yang tinggal bertahun-tahun pada stasion yang sama. Stasion-stasion itu dicapai melalui perjalanan spiritual yang tidak bisa dijelaskan kecuali oleh orang yang mengalaminya.

Istilah-istilah dalam tasawuf dan arti stasion-stasion itu dapat dijelaskan sebagai berikut:

  1. Tobat
    Tobat adalah meminta ampun yang tidak membawa kembali kepada dosa lagi. Langkah pertama adalah tobat dari dosa kecil dan dosa besar. Tobat yang sebenarnya dalam tasawuf adalah lupa kepada segala hal kecuali kepada Allah. Tobat adalah mencintai Allah dan orang yang mencintai Allah akan senantiasa mengadakan hubungan dan kontemplasi tentang Allah.
  2. Zuhd
    Untuk memantapkan tobat, calon sufi memasuki stasion zuhd, yaitu meninggalkan dunia dan hidup kematerian. Zuhd merupakan langkah awal dalam perjalanan menuju kehidupan seorang sufi. Dalam sejarahnya, zuhd ini ada di kalangan umat Islam sebelum tasawuf itu sendiri, karena lingkungan masyarakat pada abad ke-1 dan ke-2 hijrah, sebagai reaksi terhadap kehidupan mewah yang melanda masyarakat pada saat itu, terutama di kalngan keluarga kerajaan dan kaum bangsawan, akibat kekayaan yang diperoleh setelah kedaulatan Islam memasuki Siria, Mesir, Mesopotamia, dan Persia. Sebagian umat Islam membandingkan kehidupan pada masa itu dengan kehidupan Rasulullah yang sederhana dan bersahaja. Melihat keadaan yang demikian itu , mereka ingin kembali menghayati dan mempertahankan kesederhanaan seperti Rasul dan para sahabatnya, kemudian mereka mengasingkan diri dari tengah-tengah kehidupan.
    Ajaran zuhd pada dasarnya tidak dapat dikatakan sebagai meninggalkan dunia secara mutlak, tetapi sikap jiwa yang tidak meletakan kehidupan sebagai tujuan, karena itu tidak menghalangi atau mengganggu penghayatan keagamaan seseorang. Dunia dipandang sebagai alat untuk merealisasikan tujuan yang hakiki, yaitu taqarrub kepada Allah.
  3. Wara’
    Setelah selesai stasion zuhd, seorang sufi memasuki stasion wara’, yaitu meninggalkan segala sesuatu yang di dalamnya terdapat subhat (keraguraguan hukum) tentang halalnya sesuatu. Dalam dunia tasawuf, kalau seseorang telah mencapai wara, maka tangannya tak bisa diulurkan untuk mengambil yang di dalamnya terdapat subhat.
  4. Faqr
    Setelah melewati wara, seorang sufi akan memasuki stasion faqr. Kefakiran dalam istilah sufi adalah tidak meminta lebih daripada apa yang telah ada pada diri kita. Tidak meminta rezeki kecuali hanya untuk dapat menjalankan kewajiban, bahkan tidak meminta kendati pun tak ada pada diri kita. Kalau diberi diterima; tidak meminta tetapi tidak menolak.
  5. Sabar
    Setelah itu seorang sufi memasuki stasion sabar. Sabar dalam menjalankan perintah-perintah Allah, dalam menjauhi larangan-larangan-Nya dan menerima segala musibah, percobaan dan ujian yang ditimpakan-Nya seraya menunggu datangnya pertolongan Allah.
  6. Tawakal
    Setelah melewati stasion sabar, seorang sufi akan memasuki stasion tawakal. Tawakal adalah menyerah kepada qadha dan qadar Allah. Selamanya berada dalam keadaan tentram, jika mendapat pemberian berterima kasih, jika tak mendapat apa-apa bersikap sabar dan menyerah kepada qadha dan qadar Allah. Tidak memikirkan hari esok, cukup dengan apa yang ada untuk hari ini.
  7. Ridha
    Ridha adalah tidak menentang terhadap qadha dan qadar Allah, melainkan menerima dengan senang hati, karena itu seorang yang telah mencapai tahap ini akan merasa senang dan nikmat ketika mereka menerima malapetaka sebagaimana mereka menerima nikmat.
    Seorang sufi tidak meminta surga dari allah dan tidak pula meminta dijauhkan dari neraka. Tidak berusaha sebelum turunnya qadha dan qadar, dan cinta kepada-Nya bergelora di waktu turunnya cobaan.
  8. Mahabbah
    Mahabbah adalah cinta kepada allah yang ditampilkan dalam bentuk kepatuhan tanpa batas,  penyerahan diri secara total, dan pengosongan hati dari segala sesuatu yang dikasihi kecuali kepada Allah. Hati yang mahabbah adalah hati yang dipenuhi cinta, sehingga tidak sempat untuk benci kepada siapapun. Ia mencintai Tuhan dan semua makhluknya.
  9. Ma’rifah
    Setelah melalui stasion mahabbah, seorang sufi akan bergerak dan masuk ke dalam stasion makrifah. Makrifah adalah mengetahui Tuhan dari dekat, sehingga hati dapat melihat tuhan. Di stasion ini sufi telah dekat sekali dengan Tuhan, tetapi ia belum puas dengan berhadapan, ia ingin lebih dekat lagi dan bersatu dengan Tuhan. Pengetahuan tentang Tuhan dalam pandangan kaum sufi terdiri dari:

    1. Pengetahuan awam, yaitu Tuhan satu dengan perantaraan syahadat
    2. Pengetahuan ulama, yaitu Tuhan satu dengan perantaraan akal
    3. Pengetahuan sufi, yaitu Tuhan satu dengan perantaraan hati sanubari

    Para sufi makrifah diperoleh dengan alat yang disebut sir, yaitu alat untuk melihat Tuhan. Alat yang dimiliki manusia dalam hubungannya dengan Tuhan adalah qalb untuk mengetahui sifat-sifat Tuhan, ruh untuk mencintai Tuhan, dan sir untuk melihat Tuhan.

  10. Alfana wal baqa
    Kendatipun pada stasion makrifah, seorang sufi telah sangat dekat dengan Tuhan, tetapi ia belum puas dengan berhadapan, ingin lebih dekat lagi untuk bersatu dengan Tuhan. Sebelum seorang sufi bersatu dengan Tuhan, terlebih dahulu ia harus menghancurkan dirinya. Selama ia belum dapat menghancurkan dirinya, ia tidak akan bersatu dengan Tuhan. Penghancuran ini disebut fana, penghancuran dalam istilah sufi selalu diiringi dengan baqa. Fana sebagai penghancuran diri kaum sufi adalah hancurnya perasaan atau kesadaran tentang adanya tubuh kasar manusia. Kalau sufi telah mencapai fana al nafs, yaitu kalau wujud jasmaninya tidak ada lagi (dalam arti tidak disadarinya lagi), maka yang akan tinggal adalah wujud rohaninya dan ketika itu ia dapatlah bersatu dengan Tuhan.
  11. Ittihad
    Hancurnya kesadaran diri seorang sufi meninggalkan kesadaran tentang Tuhan, ia pun sampai ke tingkat ittihad, yaitu satu tingkatan tasawuf di mana seorang sufi telah merasa dirinya bersatu dengan Tuhan; suatu tingkatan di mana yang mencintai dan yang dicintai telah menjadi satu sehingga salah satu dari mereka memanggil yang lainnya dengan kata-kata; Wahai aku!.
    Dalam ittihad yang dapat dilihat hanya satu wujud, tetapi sebenarnya ada dua wujud yang terpisah. Karena yang dilihat dan dirasakannya hanya satu wujud, maka dalam ittihad terjadi pertukaran peran antara yang mencintai dengan yang dicintai atau antara seorang sufi dengan Tuhan. Karena itu tidak mengherankan suatu ungkapan seorang sufi menyatakan:

    Aku adalah Engkau, Engkau adalah Aku

    Melalui diri-Nya aku berkata : Hai Aku

    Di sinilah sufi mencapai tujuan akhirnya, sampai kepada Tuhan bahkan menyatu dengan Tuhan.

Sekarang ini, orang mulai tertarik kembali untuk memahami dan melakukan kegiatan sufistik ini karena perkembangan masyarakat yang semakin cepat yang membawa pengaruh kepada kondisi kejiwaan seseorang. Kekecewaan dan ketidak puasan seringkali membawa dampak psikologis. Di sini orang biasanya membutuhkan ketenangan dan kesejukan yang akhirnya menemukan jawaban melalui tasawuf.

Pelaksanaan tasawuf sekarang ini tentu saja berbeda dengan apa yang dilakukan para sufi masa lalu. Zuhd tidak lagi menafikan dunia dan menyengsarakan diri, tetapi diambil makna esensialnya, yaitu tidak menjadikan dunia sebagai tujuan melainkan alat untuk hidup. Sikap terhadap dunia tersebut akan melahirkan perilaku tertentu yang membawa orang kepada ketenangan jiwa.

 3.      Pembaharuan dalam Islam

Pembaharuan dalam bahasa Arab disebut tajdid atau ishalah, dalam bahasa Inggris modernization atau reformation, secara etimologis berarti al-I’adah wal alihya (kembali dan hidup). Dengan demikian, pembaharuan atau tajdid atau islah berarti mengembalikan atau menghidupkan. Secara terminologis, para ulama tidak selalu sepakat dalammendefinisikan tajdid tersebut. Ulama salaf, umpamanya, mendefinisikan pembaharuan itu sebagai menerangkan Sunnah sehingga jelas perbedaannya dengan bid’ah; memperbanyak ilmu dan memuliakannya. Sementara Bustani Said mengartikannya: mengembalikan ajaran agama sebagaimana keadaan pada masa salaf pertama. Abu Hasan Ali al-Nadwi mengatakan bahwa yang dimaksud pembaharuan itu ialah suatu usaha untuk menyesuaikan ajaran agama dengan kehidupan kontemporer dengan cara menta’wilkan atau menafsirkan ajaran agama termaksud dengan perkembangan ilmu pengetahuan serta kondisi sosial masyarakat.

Berdasarkan definisi-definisi di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa , di satu sisi tajdid itu harus mempertahankan ajaran dasar, yaitu Alquran dan Assunnah, dan di sisi lainnya perlu mengembangkan ijtihad, yaitu usaha maksimal intelektual untuk memahami Alquran dan As-Sunnah tersebut secara rasional, dan seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Pembaharuan terjadi ketika kontak antara Islam dan dunia Barat pada penghujung akhir abad ke-18, Barat memperkenalkan modernisasi disertai ide-ide barunya, timbullah di dunia Islam, pikiran dan gerakan untuk berupaya mengimbangi kemajuan dan perkembangan baru yang ditimbulkan ilmu pengetahuan dan teknologi modern tersebut.

Esensi pembaharuan di dunia Islam adalah mengembalikan ajaran pokok agama Islam kepada sumber aslinya yang bersifat qath’iyyah dan sekaligus mengembangkan pemahaman baru terhadap ayat-ayat Alquran dan sunah yang dzanniyah al-dilalah secara rasional, sehingga sesuai dengan perkembangan zaman. Dengan demikian nampaklah kepada kita bahwa sebenarnya proses pembaharuan itu berawal dari cara memahami ayat-ayat Alquran sebagai sumber pokok dalam sistem din al Islam. Bila pengertian pembaharuan yang didefinisikan di atas disepakati, atau setidaktidaknya dijadikan suatu definisi operasional, maka dapatlah dinyatakan bahwa Muhammad Abduh adalah mufassir pertama di awal abad ke 19 yang mencoba memahami Alquran secara rasional seiring dengan perkembangan kebudayaan manusia.

Ketika Abduh ditanya, mengapa perlu ada pembaharuan dalam cara memahami Alquran?. Ia menjawab bahwa tafsir yang ada belum terlepas dari subyektifitas pengarangnya. Oleh karena itu, tidak sedikit tafsir yang penafsirnya terpengaruh oleh faham yang menjadi anutan mufassirnya. Paling tidak tafsir tersebut terbawa ilustrasi keahlian si mufasirnya. Tafsir salaf dinilai Abduh sebagai konservatif. Sementara tafsir khalaf dinilai progresif. Tafsir mistis (sufi) dinilai penuh dengan isyarat dan lambang. Tafsir syi’ah dinilai bersifat ekstrim dan mengandung unsur kebatinan. Demikian pula tafsir tarikhi tidak dapat melepaskan diri dari infiltrasi israiliyat dan mitos.

Apabila dzahir ayat nampak bertentangan dengan akal, maka haruslah dicari interpretasi yang membawa ayat itu sesuai dengan akal, yakni melalui cara ta’wil. Sungguh pun demikian, Abduh tidak menafikan peran tafsir bil ma’tsur, yakni cara menafsirkan Alquran dengan Alquran, Alquran dengan hadis, atau Alquran dengan pendapat sahabat. Hanya saja ia menerapkan cara penafsiran serupa ini dengan kriteria yang amat ketat, yakni ia mensyaratkan penerimaan tafsir bi riwayah manakal riwayat tersebut dapat teruji kesahihannya melalui penelitian sanad dan matan dan disampaikan melalui orang banyak. Dengan demikian, Abduh hanya mau menerima hadis manakala hadis itu berkualitas qath’iy. Itulah sebabnya, dalam beberapa hal, seperti hadis tentang tersihirnya Nabi oleh Ubad bin ‘Asham, Abduh tidak mau menerima hadis tersebut sungguh pun hadis itu dinilai sahih oleh jumhur ulama.

Abduh melihat teks Alquran merupakan kesatuan yang utuh, saling melengkapi dan saling menyempurnakan. Dalam tafsirnya, ia tidak menjadikan ayat-ayat Alquran berupa kepingan-kepingan yang bersifat parsial. Ia menyuguhkan secara utuh dan menjelaskan maksud dan tujuannya secara universal. Ia tidak banyak mempersoalkan bahsa (nahwu, saraf, balaghah), melainkan lebih mengutamakan maknanya. Ia pun tidak terperosok ke dalam masalah detail (mubhamat), atau soal-soal yang bersifat parsial (juziyyat), tetapi langsung memasuki pembahasan yang bersifat universal serta mengutarakan maknanya secara umum. Ia menyelidiki sebab-sebab dan faktor-faktor yang dapat menggabungkan ajaran Alquran dengan kehidupan sosial politik. Kecuali itu, sebagai argument pembuktian, ia menyajikan pendapat para filsuf dan pakar pada zamannya. Ia berusaha mendapatkan titik temu antara ajaran Alquran dengan ilmu pengetahuan.

Demikian ide pembaharuan yang dimulai dari Abduh terus berkembang seiring dengan perkembangan pemikiran umat Islam dalam berbagai segi kehidupan mereka dari waktu ke waktu.