PENGERTIAN MAWARIS

Kata
mawaris berasal dari kata waris ( bahasa arab ) yang berarti mempusakai harta
orang yang sudah meninggal, atau membagi-bagikan harta peninggalan orang yang
sudah meninggal kepada ahli warisnya. Ahli waris adalah orang-orang yang
mempunyai hak untuk mendapat bagian dari harta peninggalanorang yang telah
meninggal. Ahli waris dapat digolongkan menjadi dua, yaitu ahli waris laki-laki
dan ahli waris perempuan ( lihat QS:Al – baqarah : 188 ). Karena sensitif atau
rawannya masalah harta warisan itu, maka dalam agama islam ada ilmu faraid,
yaitu ilmu yang mempelajari tentang warisan dan perhitungannya. Salah satu dari
tujuan ilmu tersebut adalah tidak terjadi perselisihan atau perpecahan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Dalil
mawaris

1.Ahli waris adalah orang yang berhak
menerima warisan sebagaimana yang telah ditetapkan berdasarkan Al Qur’an dan
Hadits.

 

Artinya:”Bagi orang yang laki-laki
ada hak dari harta peninggalan ibu, bapak, dan kerabatnya.baik sedikit maupun
banyak menurut bagian yang telah ditetapkan.”( QS. An Nissa:7 )

 

 

 

 

 

 

Artinya : “Allah mensyariatkan
bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. Yaitu: Bahagian seorang
anak lelaki sama dengan bahagian dua orang anak perempuan; dan jika anak itu
semuanya perempuan lebih dari dua, maka bagi mereka dua pertiga dari harta yang
ditinggalkan; jika anak perempuan itu seorang saja, maka ia memperoleh separo
harta. Dan untuk dua orang ibu-bapa, bagi masing-masingnya seperenam dari harta
yang ditinggalkan, jika yang meninggal itu mempunyai anak; jika orang yang
meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu-bapanya (saja), maka
ibunya mendapat sepertiga; jika yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara,
maka ibunya mendapat seperenam. (Pembagian-pembagian tersebut di atas) sesudah
dipenuhi-dipenuhi wasiat yang ia buat atau (dan) sesudah dibayar hutangnya.
(Tentang) orang tuamu dan anak-anakmu, kamu tidak mengetahui siapa di antara
mereka yang lebih dekat (banyak) manfaatnya bagimu.Ini adalah ketetapan dari
Allah.Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”.”( QS. An
Nissa:11 ).

 

 

 

 

 

 

 

Artinya :’Dan bagimu (suami-suami)
seperdua dari harta yang ditinggalkan oleh isteri-isterimu, jika mereka tidak
mempunyai anak. Jika isteri-isterimu itu mempunyai anak, maka kamu mendapat
seperempat dari harta yang ditinggalkannya sesudah dipenuhi wasiat yang mereka
buat atau (dan) sesudah dibayar hutangnya.Para isteri memperoleh seperempat
harta yang kamu tinggalkan jika kamu tidak mempunyai anak.Jika kamu mempunyai
anak, maka para isteri memperoleh seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan
sesudah dipenuhi wasiat yang kamu buat atau (dan) sesudah dibayar
hutang-hutangmu.Jika seseorang mati, baik laki-laki maupun perempuan yang tidak
meninggalkan ayah dan tidak meninggalkan anak, tetapi mempunyai seorang saudara
laki-laki (seibu saja) atau seorang saudara perempuan (seibu saja), maka bagi
masing-masing dari kedua jenis saudara itu seperenam harta.Tetapi jika
saudara-saudara seibu itu lebih dari seorang, maka mereka bersekutu dalam yang
sepertiga itu, sesudah dipenuhi wasiat yang dibuat olehnya atau sesudah dibayar
hutangnya dengan tidak memberi mudharat (kepada ahli waris).(Allah menetapkan
yang demikian itu sebagai) syariat yang benar-benar dari Allah, dan Allah Maha
Mengetahui lagi Maha Penyantun”.( QS. An Nissa:12 ).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Artinya : “Mereka
meminta fatwa kepadamu (tentang kalalah). Katakanlah: `Allah memberi fatwa
kepadamu tentang kalalah (yaitu): Jika seorang meninggal dunia, dan ia tidak
mempunyai anak dan mempunyai saudara perempuan, maka bagi saudaranya yang
perempuan itu seperdua dari harta yang ditinggalkannya, dan saudaranya yang
laki-laki mempusakai (seluruh harta saudara perempuan), jika ia tidak mempunyai
anak; tetapi jika saudara perempuan itu dua orang, maka bagi keduanya dua
pertiga dari harta yang ditinggalkan oleh yang meninggal. Dan jika mereka (ahli
waris itu terdiri dari) saudara-saudara laki dan perempuan, maka bahagian
seorang saudara laki-laki sebanyak bahagian dua orang saudara perempuan.Allah
menerangkan (hukum ini) kepadamu, supaya kamu tidak sesat.Dan Allah Maha Mengetahui
segala sesuatu.”( QS.
An Nissa:176 ).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. Dari hadits Rasulullah saw, ada yang
    menerangkan bagian warisan untuk saudara perempuan yang lebih dua orang, bagian
    nenek dari bapak dan dari ibu serta bagian cucu perempuan dari anak laki – laki
    dan lain-lain.

 

“Zaid bin sabit adalah sahabat Rasulullah saw.dari
kalangan Anshar yang berasal dari suku khajraj. Ia lahir di madinah tahun 11
SH/611M. Ia masuk islam pada tahun pertama hijriyah dan menjadi sekretaris
Rasulullah saw. Untuk menulis wahyu yang turun, menulis surat – surat untuk
pembesar kaum yahudi serta menjadi penyusun mushaf di masa khalifah Abu Bakar
As Siddiq. Ia dikenal sangat ahli dalam ilmu Al Qur’an, tafsir, hadits dan
khususnya faraid sehingga dijuluki Ulama masyarakat. Pada masa khalifah Umar
bin Khattab dan Usman bin Affan, ia menjabat sebagai mufti ( ahli fatwa ) yang paling berpengaruh
dalam bidang faraid, bahwa Rasulullah sendiri pernah bersabda, ”Yang paling
ahli dalam ilmu faraid di antara kalian adaah Zaid bin Sabit.”( HR.Ibnu Majah
dan Ahmad bin Hambal )”

 

 

Artinya:” Sesungguhnya hak wali
adalah untuk orang yang memerdekakan.”( Muttafakun alaih )

Artinya:” Berikan warisan kepada
orang-orang yang berhak menerimanya dan sisanya untuk orang laki-laki yang
paling berhak.”( Muttafakun alaih )

Artinya:” Sesungguhnya Allah telah
memberi hak kepada orang yang memiliki hak dan tidak ada wasiat untuk ahli
waris.”( HR.Abu Daud )

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Ketentuan Hukum Islam Tentang
Mawaris

 

Berdasarkan ketentuan perolehan atau
bagian dari harta warisan, ahli waris dapat dikatagorikan menjadi 3 golongan,yaitu
sebagai berikut :

 

1. Zawil Furud

Zawil
Furud adalah ahli waris yang perolehan harta warisannya sudah ditentukan oleh
dalil Al Quran dan Hadits (lihat QS.An Nissa:11, 12, dan 176). Dari ayat Al
Qur’an tersebut, dapat diuraikan orang yang mendapat seperdua, seperempat, dan
seterusnya.

 

  1. A.
    Ahli waris yang mendapat ½ , yaitu sebagai berikut:

 

1). Anak pempuan tunggal

2). Cucu perempuan tunggal dari anak laki-laki

3). Saudara perempuan tunggal yang sekandung

4). Saudara perempuan tunggal yang
sebapak apabila saudara perempuan yang sekandung tidak ada

5). Suami apabila istrinya tidak
mempunyai anak, atau cucu (laki-laki ataupun perempuan) dari anak laki-laki

 

  1. B.
    Ahli waris yang mendapat 1/4, yaitu sebagai berikut:

 

1). Suami apabila istrinya mempunyai
anak atau cucu dari anak laki-laki

2). Istri ( seorang atau lebih )
apabila suaminya tidak mempunyai anak atau cucu dari anak laki-laki

 

C. Ahli waris yang mendapat 1/8, yaitu istri ( seorang
atau lebih ) apabila suami mempunyai anak atau cucu dari anak laki-laki

 

D. Ahli waris yang mendapat 2/3, yaitu sebagai berikut:

 

1. Dua orang anak perempuan atau
lebih apabila tidak ada anak laki-laki ( menurut sebagian besar ulama )

2. Dua orang cucu perempuan atau
lebih dari anak laki-laki apabila anak perempuan tidak ada( diqiyaskan kepada
anak perempuan )

3. Dua orang saudara perempuan atau
lebih yang sekandung ( seibu sebapak )

4. Dua orang saudara perempuan atau
lebih yang sebapak

 

 

 

 

 

E. Ahli waris yang
mendapat 1/3, yaitu sebagai berikut:

 

1. Ibu,
apabila anaknya yang meninggal tidak
mempunyai anak atau cucu, atau dia tidak saudara – saudara (
laki-laki atau perempuan ) yangsekandung, yang sebapak atau yang
seibu

2. Dua orang atau lebih ( laki-laki
atau perempuan ) yang seibu apabila tidak ada anak atau
cucu atau anak

 

F. Ahli
waris yang mendapat 1/6, yaitu sebagai berikut:

 

1.
Ibu, apabila anaknya yang meninggal itu mempunyai cucu ( dari
anaklaki-laki ) atau mempunyai saudara-saudara( laki-laki atau
perempuan ) yang sekandung, yang sebapak atau seibu

2.
Bapak, apabila anaknya yang meninggal mempunyai anak atau cucu ( laki-laki
atau perempu an ) dari anak laki-laki

3).
Nenek ( ibu dari ibu atau ibu dari bapak ). Nenek mendapat 1/6 apabila ibu
tidak ada. Jika nenek dari bapak atau ibu masih ada, maka keduanya mendapat
bagian yang sama dari bagian yang 1/6 itu

4).
Cucu perempuan ( seorang atau lebih ) dari laki-laki apabila orang yang meninggal
mempunyai anak tunggal. Akan tetapi, apabila anak perempuan lebih dari
seorang, maka cucu perempuan tidak mendapat apa-apa

5).
Kakek apabila orang yang meninggal mempunyai anak atau cucu ( dari anak
laki-laki ), sedangkan bapaknya tidak ada

6).
Seorang saudara ( laki-laki atu perempuan ) yang seibu

7).
Saudara perempuan yang sebapak ( seorang atau lebih ) apabila saudaranya yang
meninggal itu mempunyai seorang saudara perempuan kandung. Ketentuan pembagian
seperti itu dimaksudkan untuk menggenapi jumlah bagian saudara kandung dan
saudara sebapak menjadi 2/3 bagian. Apabila saudara kandungnya ada dua
orang atau lebih, maka saudara sebapak tidak mendapat bagian

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

2. Asabah

Asabah adalah ahli waris yang bagian
penerimanya tidak ditentukan, tetapi menerima dan menghabiskan sisanya. Apabila
yang meninggal itu tidak mempunyai ahli waris yang mendapat bagian tertentu (
zawil furud ), maka harta peninggalan itu semuanya diserahkan kepada asabah.
Akan tetapi apabila ada diantara ahli waris yang mendapat bagian tertentu, maka
sisanya menjadi bagian asabah yang dibagi menjadi dua macam, yaitu sebagai
berikut:

 

A. Asabah binafsih

Asabah binafsih yaitu
asabah yang berhak mendapat semua harta atau semua sisa, diatur menurut susunan
sebagai berikut:

 

1. Anak laki-laki

2. Cucu laki-laki dari anak laki-laki dan terus kebawah
asal saja pertaliannya masih terus laki – laki

3. Bapak

4. Kakek ( datuk ) dari pihak bapak dan terus keatas,
asal saja pertaliannya belum putus dari pihak bapak

5. Saudara laki – laki sekandung

6. Saudara laki – laki sebapak

7. Anak saudara laki – laki kandung

8. Anak laki – laki kandung

9. Paman yang sekandung dengan bapak

10. Paman yang sebapak dengan bapak

11. Anak laki – laki paman yang sekandung dengan bapak

12. Anak laki – laki paman yang sebapak dengan bapak

 

Asabah – asabah tersebut dinamakan asabah binafsih, karena
mereka langsung menjadi asabah tanpa disebabkan oleh orang lain. Apabila asabah
tersebut diatas semuanya ada, maka tidak semua dari mereka mendapat bagian,
akan tetapi harus didahulukan orang-orang ( asabah ) yang lebih dekat dengan
pertaliannya, dengan orang yang meninggal itu. Jadi, penentuannya diatur
menurut nomor urut yang tersebut diatas.

Jika ahli waris yang ditinggalkan itu anak laki-laki dan
anak perempuan, maka mereka mengambil semua harta atau semua sisa.Cara
pembagiannya ialah untuk anak laki-laki mendapat dua kali lipat bagian anak
perempuan.

Artinya:”Allah telah menetapkan tentang pembagian harta
warisan terhadap anak-anak. Untuk seorang laki-laki sebanyak bagian dua orang
perempuan.”( QS. An Nisa:11 )

 

 

 

B. Asabah Bilgair

Perempuan juga ada yang menjadi asabah dengan ketentuan
sebagai berikut:

 

1. Anak laki-laki dapat menarik
saudaranya yang perempuan menjadi asabah dengan ketentuan bahwa untuk laki-laki
mendapat dua kali lipat perempuan

2. Cucu laki-laki dari anak
laki-laki yang dapat menarik saudaranya yang perempuan menjadi asabah

3. Saudara laki-laki sekandung
juga dapat menarik saudaranya yang perempuan menjadi asabah

4. Saudara laki-laki sebapak
juga dapat menarik saudaranya yang perempuan menjadi asabah

 

Keempat macam asabah diatas dinamakan asabah bilgair (
asabah dengan sebab orang lain ). Jika ahli waris yang ditinggalkan dua orang
saudara atau lebih, maka cara pembagiannya adalah untuk saudara laki – laki dua
kali lipat perempuan( QS.An Nisa:176 )

 

C. Asabah Ma’algair

Selain daripada yang telah disebutkan sebelumnya, ada
dua lagi asabah yang dinamakan asabah ma’algair ( asabah bersama orang
lain ). Asabah ini hanya dua macam, yaitu sebagai berikut:

 

1. Saudara perempuan sekandung
apabila ahli warisnya saudara perempuan sekandung ( seorang atau lebih ) dan
anak perempuan ( seorang atau lebih ) atau saudara perempuan sekandung dan cucu
perempuan ( seorang atau lebih ), maka saudara perempuan menjadi asabah
ma’algair. Sesudah ahli waris yang lain mengambil bagian masing-masing, sisanya
menjadi bagian saudara perempuan tersebut.

2. Saudara perempuan sebapak
apabila ahli saudara perempuan sebapak ( seorang atau lebih ) dan anak
perempuan ( seorang atau lebih ), atau saudara perempuan sebapak dan cucu
perempuan ( seorang atau lebih ), maka saudara perempuan menjadi asabah
ma’algair. Jadi, saudara perempuan sekandung atau sebapak dapat menjadi asabah
ma’algair apabila mereka tidak mempunyai saudara laki-laki. Akan tetapi,
apabila mereka mempunyai saudara laki – laki maka kedudukannya berubah menjadi
asabah bilgair ( saudara perempuan menjadi asabah karena ada saudara laki -
laki ).

 

 

 

 

 

 

 

3.Hijab dan Mahjub

Hijab ( penghalang ), yaitu ahli waris yang lebih dekat
dapat menghalangi ahli waris yang lebih jauh sehingga ahli waris yang lebih
jauh tidak dapat menerima, atau bisa menerima, tetapi bagiannya menjadi
berkurang.

Hijab dibagi menjadi dua, yaitu sebagai berikut:

 

1. Hijab hirma,yaitu ahli waris
yang lebih dekat dapat menghalangi ahli waris yang lebih jauh sama
sekali tidak menerima bagian. Contohnya, kakek terhalang oleh bapak, dan
cucu terhalang oleh anak

2. Hijab nuqs­­an ( mengurangi
), yaitu ahli waris lebih dekat dapat menghalangi ahli waris yang
lebih jauh sehingga ahli waris yang lebih jauh bagiannya berkurang Contoh,
jika jenazah meninggalkan anaknya, suami mendapat 1/4, dan jika tidak
meninggalkan anak mendapat 1/2

Mahjub ( terhalang ), ahli waris yang lebih jauh terhalang
oleh ahli waris waris yang lebih dekat sehingga sama sekali tidak dapat
menerima, atau menerima, tetapi bagiannya berkurang

 

 

Rukun
Waris

 

Untuk
terjadinya sebuah pewarisan harta, maka harus terpenuhi tiga rukun waris.Bila
salah satu dari tiga rukun ini tidak terpenuhi, maka tidak terjadi pewarisan.

Ketiga rukun itu adalah al-muwarrits, al-waarist dan al-mauruts.Lebih rincinya
:

1. Al-Muwarits

Al-Muwarrits (المُوَرِّث) sering diterjemahkan sebagai pewaris,
yaitu orang yang memberikan harta warisan. Dalam ilmu waris, al-muwarrits
adalah orang yang meninggal dunia, lalu hartanya dibagi-bagi kepada para ahli
waris.

Harta yang dibagi waris haruslah milik seseorang, bukan
milik instansi atau negara.Sebab instansi atau negara bukanlah termasuk
pewaris.

2. Al-Warits

Al-Warits (الوَارِث) sering diterjemahkan sebagai ahli waris,
yaitu mereka yang berhak untuk menerima harta peninggalan, karena adanya ikatan
kekerabatan (nasab) atau ikatan pernikahan, atau lainnya.

3. Harta Warisan

Harta warits (المَوْرُوث) adalah benda atau hak kepemilikan yang
ditinggalkan, baik berupa uang, tanah, dan sebagainya.Sedangkan harta yang
bukan milik pewaris, tentu saja tidak boleh diwariskan.

Misalnya, harta bersama milik suami istri.Bila suami
meninggal, maka harta itu harus dibagi dua terlebih dahulu untuk memisahkan
mana yang milik suami dan mana yang milik istri.Barulah harta yang milik suami
itu dibagi waris.Sedangkan harta yang milik istri, tidak dibagi waris karena
bukan termasuk harta warisan.

 

 

 

 

 

 

 

Sebab-sebab Mendapatkan Hak Waris

Ada tiga sebab yang menjadikan
seseorang mendapatkan hak waris:

1. Kerabat hakiki

Yaitu hubungan yang ada ikatan nasab, seperti ayah, ibu, anak, saudara, paman,
dan seterusnya.

Seorang anak yang tidak pernah tinggal dengan ayahnya seumur hidup tetap berhak
atas warisan dari ayahnya bila sang ayah meninggal dunia.

Demikian juga dengan kasus dimana seorang kakek yang telah punya anak yang
semuanya sudah berkeluarga semua, lalu menjelang ajal, si kakek menikah lagi
dengan seorang wanita dan mendapatkan anak, maka anak tersebut berhak mendapat
warisan sama besar dengan anak-anak si kakek lainnya.

2. Pernikahan

Yaitu terjadinya akad nikah secara legal (syar’i) antara seorang laki-laki dan
perempuan, sekalipun belum atau tidak terjadi hubungan intim (bersanggama)
antar keduanya.

Tapi berbeda dengan urusan mahram, yang berhak mewarisi disini hanyalah suami
atau istri saja, sedangkan mertua, menantu, ipar dan hubungan lain akibat
adanya pernikahan, tidak menjadi penyebab adanya pewarisan, meski mertua dan
menantu tinggal serumah. Maka seorang menantu tidak mendapat warisan apa-apa
bila mertuanya meninggal dunia.

Demikian juga sebaliknya, kakak ipar yang meninggal dunia tidak memberikan
wairsan kepada adik iparnya, meski mereka tinggap serumah.Adapun pernikahan
yang batil atau rusak, tidak bisa menjadi sebab untuk mendapatkan hak
waris.Misalnya pernikahan tanpa wali dan saksi, maka pernikahan itu batil dan
tidak bisa saling mewarisi antara suami dan istri.

3. Al-Wala

Yaitu kekerabatan karena sebab hukum. Disebut juga wala al-’itqi dan wala
an-ni’mah.Yang menjadi penyebab adalah kenikmatan pembebasan budak yang
dilakukan seseorang.Maka dalam hal ini orang yang membebaskannya mendapat
kenikmatan berupa kekerabatan (ikatan) yang dinamakan wala al-’itqi.Orang yang
membebaskan budak berarti telah mengembalikan kebebasan dan jati diri seseorang
sebagai manusia. Karena itu Allah SWT menganugerahkan kepadanya hak mewarisi
terhadap budak yang dibebaskan, bila budak itu tidak memiliki ahli waris yang
hakiki, baik adanya kekerabatan (nasab) ataupun karena adanya tali
pernikahan.Namun di zaman sekarang ini, seiring dengan sudah tidak berlaku lagi
sistem perbudakan di tengah peradaban manusia, sebab yang terakhir ini nyaris
tidak lagi terjadi.


 

Batalnya
Hak Menerima Waris

 

Sekalipun berhak menerima waris yang
seseorang meninggal dunia, tetapi hak itu dapat batal karena hal – hal berikut
ini.

 

1. Tidak beragama islam. Hukum
islam hanya untuk umat islam, maka seorang bapak yang tidak beragama islam
tidak mewarisi harta anaknya yang beragama islam, demikian juga sebaliknya

2. Murtad dari agama islam.
Sekalipun mulanya beragama islam, tetapi kemudian pindah agama lain, maka ia
tidak berhak lagi mempusakai harta keluarganya yang beragama islam

3. Membunuh. Orang yang
membunuh tidak berhak mendapat harta waris dari orang yang dibunuhnya
sebagaimana sabda Rasulullah.,”Tidaklah si pembunuh mewarisi harta orang yang
dibunuhnya,sedikitpun. “( HR.Ahli Hadits )

4. Menjadi hamba. Seseorang
yang menjadi hamba orang lain tidak berhak menerima harta waris dari
keluarganya karena harta harta tersebut akan jatuh pula ketangan orang yang
menjadi majikannya ( lihat QS.An Nahl:75 )

 

Perhitungan Dalam Pembagian Warisan

 

Jika seseorang meninggal dunia,
kemudian ada ahli waris yang mendapat 1/6 bagian, dan seorang lagi
mendapat 1/4 bagian, maka pertama – tama harus dicari KPK ( kelipatan
persekutuan terkecil ) dari pembilang 6 dan 4, yaitu bilangan 12. Didalam ilmu
faraid, KPK disebut asal masalah.

Asal masalah dalam ilmu faraid ada 7
macam, yaitu 2, 3, 4, 6, 8, 12, dan 24.

Contoh kasus 1.

Ada seseorang perempuan meninggal
dunia, ahli warisnya adalah bapak, ibu, suami, dua anak laki-laki, dan satu
anak perempuan.Harta peninggalannya sebanyak Rp 1.800.000.Berapakah bagian
masing – masing ahli waris?

Bapak = 1/6 ( karena ada
anak laki-laki )

Ibu = 1/6 ( karena ada
anak )

Suami = 1/4 ( karena ada
anak )

Anak = Asabah ( karena ada
anak laki-laki dan perempuan )

Asal masalah (KPK) = 12

Bapak = 1/6 * 12 = 2

Ibu = 1/6 * 12 = 2

Suami = 1/4 * 12 = 3

Jumlah = 7

Sisa ( bagian anak ) = 12 – 7 =
5

Bagian bapak = 2/12*Rp
1.800.000 = Rp 300.000

Bagian ibu = 2/12*Rp 1.800.000
= Rp 300.000

Bagian suami = 3/12*Rp
1.800.000 = Rp 450.000

Bagian anak = 5/12*Rp 1.800.000
= Rp 750.000

Untuk anak laki-laki mendapat dua
kali lipat bagian anak perempuan sehingga dua anak laki-laki mendapat empat bagian
dan seorang anak perempuan mendapat satu bagian. Harga warisan sisanya dibagi
lima(5).

Bagian seorang anak
laki-laki =2/5 * Rp750.000 = Rp300.000

Bagian seorang anak
perempuan =1/5 * Rp750.000 = Rp150.000

Didalam praktek pelaksanaan
pembagian harta warisan, sering di jumpai kasus kelebihan atau kekurangan harta
sehingga pembagian harta waris memerlukan metode perhitungan yang tepat.

Sebagaimana contoh 1, sebelum
memulai pembagian harta warisan, lebih dulu harus ditetapkan angka asal
masalah, yaitu mencari angka ( kelipatan persekutuan ) terkecil yang dapat
dibagi oleh masing-masing angka penyebut dari bagian ahli waris guna memudahkan
dalam operasional hitungan. Misalnya bagian ahli waris 1/2 dan 1/3, angka asal
masalahnya ( KPK ) adalah 6 karena 6 dapat dibagi 2 dan 3 ( penyebutnya ).
Bagian ahli waris 1/4, 2/3, 1/6, 1/4 angka asal masalahnya adalah 12 karena
angka 12 dapat dibagi 2, 3, dan 6. Bagian ahli waris 1/8 dan 2/3, angka
masalahnya 24 karena angka 24 dapat dibagi 8 dan 3. Demikian seterusnya.

 

Contoh kasus 2.

A. Seseorang meninggal dunia,
mewarisi harta sebesar Rp 12.000.000. Ahli warisnya terdiri dari suami, anak
perempuan, cucu perempuan dan saudara perempuan sekandung, masing-masing
mendapat bagian 3-6-2-1. Pembagiannya adalah sebagai berikut:

Suami ( 1/4 ) = 3/12 * Rp
12.000.000 = Rp 3.000.000

Anak perempuan ( 1/2 ) = 6/12 *
Rp 12.000.000 = Rp 6.000.000

Cucu perempuan ( 1/6 ) = 2/12 *
Rp 12.000.000 = Rp 2.000.000

Saudara perempuan (1/2)= 1/12 * Rp
12.000.000 = Rp 1.000.000

 

B. Seseorang meninggal dunia
meninggalkan harta warisan sebesar Rp 36.000.000 dan ahli waris terdiri dari
ibu, suami, dan dua saudara seibu, masing-masing mendapat bagian 1, 3, 2,
pembagiannya adalah P:

Ibu (1/6) = 1/6 * Rp
36.000.000 = Rp 6.000.000

Suami (1/2) = 3/6 * Rp 36.000.000 =
Rp 18.000.000

2 Saudara (1/3) = 2/6 * Rp
36.000.000 = Rp 12.000.000

 

C. Si pulan meninggal dunia
meninggalkan harta warisan senilai Rp 14.400.000 dan meninggalkan ahli waris
terdiri dari istri, cucu perempuan serta ibu masing-masing mendapat bagian 3,
12, 4, pembagian sebagai berikut:

Istri (1/8) = 3/24 * Rp
14.400.000 = Rp 1.800.000

Cucu perempuan (1/2) = 12/24 *
Rp 14.400.000= Rp 7.200.000

Ibu (1/6) = 4/24 * Rp
14.400.000 = Rp 2.400.000

Keterangan sisa harta Rp 3.000.000
diberikan kepada baitul mal.

Hal-hal yang harus kita perhatikan
sebelum menghitung pembagian hak waris adalah sebagai berikut:

1. Supaya diperhatikan susunan ahli waris, apakah ada
yang terhalang ( mahjub ) atau tidak ( gairu mahjub )

2. Kita harus bisa membedakan atau memisahkan antara
ahli waris zawil furud atau asabah. Jika ternyata ada asabah lebih dari 1
kelompok maka asabah yang urutannya lebih besar atau jauh supaya mengalah, dan
turun derajatnya menjadi ahli waris zawil furud.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s