Alam semesta sebagai ciptaan Allah

Segala sesuatu yang ada di alam raya ini
diciptakan oleh Allah, karena itu Allah adalah Pencipta (alkhalik) dan segala
sesuatu di alam raya ini adalah ciptaan (almakhluk). Alam raya yang terdiri
dari milyaran planet diciptakan Allah dalam proses yang panjang dan bertahap
dan dalam suatu periode yang sangat panjang. Alquran mengisyaratkan proses
penciptaan alam dalam enam periode dan setiap periode terdiri dari ribuan atau
jutaan tahun.

Salah satu planet ciptaan Allah adalah
bumi yang dihuni oleh makhluk hidup. Awal kehidupan di muka bumi dimulai dari
diciptakannya air (miyah). Ilmuwan fisika muslim kontemporer telah mengungkap
isyarat-isyarat Alquran tentang alam raya ini dikaitkan dengan kajian-kajian
empirik dan eksperimental yang mereka lakukan dengan menggunakan ayat-ayat Alquran
sebagai penunjuk arahnya.

Di sini Alquran diperankan sebagai
petunjuk penyelidikan mereka, bukan dipandang sebagai teori yang dapat dibantah
dan diterima, karena Alquran bukanlah ilmu pengetahuan.

Beberapa ayat yang memberikan pencerahan dalam menemukan
konsep-konsep dasar ilmu pengetahuan, khususnya fisika dalam kaitan penciptaan
alam semesta antara lain:

Dan dialah yang telah
menciptakan langit dan bumi dalam enam hari, adapun arsy-Nya telah tegak pada
air untuk menguji siapa diantara kalian yang lebih tinggi amalnya. (QS
Hud,11:7)

Dalam ayat di atas Allah menjelaskan
bahwa alam raya diciptakan dalam enam hari. Hari yang dimaksud di sini bukan
hari dalam perhitungan biasa, tetapi diartikan sebagai periode yang mungkin
terdiri dari ribuan tahun. Jadi alam raya ini diciptakan Allah tidak tiba-tiba,
tetapi berjalan secara bertahap dalam waktu yang amat panjang.

Alam raya yang terdiri dari berbagai
planet seringkali disebut Alquran sebagai samawat dan ardh (terjemahan biasa
menyebutnya langit dan bumi), proses penciptaannya disinggung dalam Alquran
sebagai berikut:

Apakah manusia-manusia
yang inkar itu tidak menyaksikan (mengetahui) bahwa langit dan bumi (jagat raya
ini) adalah sesuatu yang padu, kemudian Kami pisahkan keduanya. Dan dari air
Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakan mereka tidak beriman.
(Alanbiya,21:30)

Jagat raya sebagai sesuatu yang padu mengandung
pengertian bahwa dulunya alam ini satu saja, kemudian Allah memisah-misahkannya
sehingga menjadi planet-planet yang banyak menghuni alam semesta. Alquran tidak
menyebutkan secara rinci
bagaimana
Allah memisah-misahkan alam ini sehingga menjadi seperti sekarang ini yang
terdiri dari jutaan atau milyaran benda langit. Tetapi secara jelas Alquran
menyebutkan bahwa Allah yang melakukan itu semua. Hal ini memberikan arti bahwa
seluruh alam raya berada dalam kekuasaan Allah Sang Maha Pencipta.

Berbeda dengan pandangan ilmu
pengetahuan (Barat) yang meniadakan unsur ketuhanan dalam proses kejadian alam.
Mereka berpendapat bahwa alam raya ini berasal dari kabut tebal yang
kemudian berkumpul dan berputar hingga menimbulkan panas. Ketika panas mencapai
titik tertentu terjadilah ledakan besar dan sisa-sisa ledakan inilah yang
menjadi cikal bakal planet-planet di jagat raya.

Pada ayat di atas dijelaskan bahwa bumi
dan langit adalah sesuatu yang padu. Dalam pengertian para ahli fisika muslim
diartikan bahwa sekitar 15 milyar tahun yang lalu, alam semesta ini, energi
materi beserta ruang waktu, keluar dengan kekuatan yang sangat dahsyat dari
satu titik singularitas dengan temperatur dan kerapatan yang sangat tinggi.
Sebelum itu tak ada energi, tak ada materi, tak ada ruang dan waktu. Kalau
ruang waktu (sama)
dan energi materi (ardh) semula berada dalam satu titik. Dengan demikian tak
ada suatu apapun yang lebih padu daripadanya, sebab di dalam suatu titik tak
ada kata di sini atau di situ.

Dalam
ayat-ayat lain Allah menjelaskan:

Allah yang telah
menciptakan tujuh langit berlapis-lapis, kamu sekali-kali tidak akan melihat
pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah itu sesuatu kepincangan (sesuatu yang
tidak seimbang); maka lihatlah berulangulang, adakah kamu menampakkan sesuatu
keretakan?. Maka kemudian pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan
kembali kepadamu dengan tidak menemukan suatu cacat dan penglihatanmu itupun

dalam keadaan lemah dan
payah. (QS.Al-Mulk 67:3)

Dan diantara
tanda-tanda kekuasaan-nya ialah terciptanya langit dan bumi, dan perbedaan
bahasa dan warna kulitmu; sungguh dalam hal ini terdapat tandatanda

bagi orang yang
berilmu. (QS.Ar-rum, 30:22)

 

Ayat di atas mengisyaratkan bahwa alam
semesta ini berjalan dengan kokoh, teratur, rapi dan harmonis dalam suatu
sistem yang seimbang. Benda-benda langit yang bertebaran berjalan secara
harmonis sehingga tidak terjadi benturan karena Allah telah meletakkan sistem
gaya tarik menarik yang seimbang dan kokoh di antara benda-benda itu. Itu semua
menjadi gambaran nyata akan kemahakuasaan Allah yang sangat menakjubkan.

Isyarat-isyarat Alquran di atas
merupakan dorongan agar manusia menghayati kebesaran dan eksistensi Allah.
Alquran tidak memperinci proses penciptaan alam raya ini secara detil, karena
memang alquran bukanlah buku ilmu pengetahuan, tetapi isyarat-isyarat tentang
penciptaan ini disinggung secara garis besar yang memberikan petunjuk awal kepada
manusia untuk memahaminya.

Alquran mendorong manusia untuk memahami
fenomena alam melalui kajian-kajian (tafakur) sehingga melahirkan ilmu
pengetahuan. Prinsip utama dalam bahasan penciptaan alam raya diarahkan kepada
kesadaran akan adanya Sang Maha
Pencipta
melalui penghayatan terhadap ciptaan-Nya. Karena alam raya dengan segala isinya
bukanlah sesuatu yang ada dengan sendirinya atau suatu yang kebetulan, tetapi
ia diciptakan oleh Sang Maha Pencipta.

Alam raya diciptakan secara sistemik dan
seimbang (tawazun) dengan hukum-hukumnya (sunnatullah). Tugas manusialah untuk
meneliti dan menyusun agar hukum-hukum dapat diketahui dan dijelaskan secara
rinci. Pengetahuan dan
penjelasan tentang sunnatullah inilah yang kemudian kita kenal dengan ilmu
pengetahuan.

Allah sebagai pencipta alam raya dengan
segala isinya adalah satu-satunya Sang Pemilik mutlak atas segalanya. Karena
itu tidak ada seorang pun yang bisa mengklaim sebagai pemilik mutlak alam raya
ini selain Allah.

Allah sebagai Pemilik Mutlak alam raya
menjadi dasar
berpikir Islam dalam memandang dunia. Karena itu pada tahap selanjutnya Islam
tidak mengenal pemilikan mutlak oleh manusia. Hak manusia atas dunia hanya berupa
hak pemilikan yang bersifat sementara. Bahkan hak pemilikan tersebut bersifat
amanah yang menuntut adanya kewajiban-kewajiban terhadap subyek yang memberikan
amanat dan kepada apa yang diamanatinya.

Berdasarkan prinsip tersebut, pada
tataran hukum (syariat), dalam Islam terdapat hak dan kewajiban orang
terhadap apa yang dimilikinya, termasuk pemilikan harta. Seseorang yang
memiliki harta sebagai hasil dari usahanya memiliki kewajiban yang dibebankan
oleh Sang Maha Pemilik, misalnya kewajiban zakat. Kewajiban ini merupakan
konsekuensi logis dari adanya pengakuan bahwa manusia bukanlah pemilik mutlak
atas hartanya.

Karena itu di dalam harta yang dimiliki
seseorang terdapat hak Allah yang harus dikeluarkan untuk orang lain. Adanya
hak pemilikan mutlak oleh Allah itu dapat mudah dipahami secara rasional dan
faktual dalam realita kehidupan manusia.

Misalnya: Si A memiliki uang dari hasil
usahanya sebesar Rp 20.000,- . Apakah uang tersebut milik mutlak si A ?.
Jawabannya dapat ditelusuri
lebih
lanjut bagaimana Si A menggunakan uang tersebut. Uang tersebut oleh si A
dibelikan seekor ayam, kemudian ia sembelih, dimasak, kemudian ia makan. Apakah
ayam seharga itu ia makan seluruhnya ?. Jawabannya tentu saja tidak. Darah,
bulu, kotoran, dan tulang ayam itu dibuang oleh si A sebagai makanan binatang
dan sebagainya. Yang dimakan Si A hanyalah dagingnya. Barang yang dibuangnya
itu tentu saja termasuk dalam harga Rp 20.000,- tadi, dan dengan demikian
ternyata bahwa sebagian dari uang itu adalah milik binatang.

Berdasarkan pemahaman itu dapat diterima
pula secara rasional kewajiban muslim untuk membayar zakat. Perumpamaan
sederhana tersebut menunjukkan bahwa yang namanya pemilikan mutlak itu pada
kenyataan sesungguhnya tidak pernah ada sebagaimana Islam telah menegaskannya.

Dari pemahaman tersebut di atas dapat
diambil kesimpulan bahwa Islam mengajarkan bahwa alam raya ini milik mutlak
Allah, manusia hanya diberi hak pemilikan yang bersifat sementara. Ungkapan
tersebut menjadi dasar berpikir Islami sehingga penyusunan dan pengembangan
berbagai teori ilmu pengetahuan yang dikembangkan umat Islam memiliki perbedaan
dan nilai lebih dibandingkan dengan teori-teori ilmu pengetahuan yang hanya
berdasarkan pendekatan empiris saja.

Hakikat
Manusia

 

Dalam Islam, hakekat manusia adalah
perpaduan antara badan dan ruh. Keduanya masing-masing merupakan substansi yang
berdiri sendiri dan tidak saling bergantung satu sama lain. Islam secara tegas
mengatakan bahwa kedua substansi tersebut adalah substansi alam, sedangkan alam
adalah makhluk, maka keduanya juga makhluk yang diciptakan oleh Allah SWT. Hal
ini dapat dilihat dari ayat al-Qur’an surat Al-Mukminun : 12 – 14 yang menggambarkan
sebuah proses kejadian manusia.

Artinya
: “Dan sesungguhnya kami ciptakan manusia dari saripati tanah. Kemudian Kami
jadikan dari tanah itu air mani (terletak) dalam tempat simpanan yang teguh
(rahim). Kemudian dari air mani itu Kami ciptakan segumpal darah lalu segumpal
darah itu Kami jadikan segumpal daging dan dari segumpal daging itu Kami
ciptakan tulang belulang. Kemudian tulang belulang itu kamu tutup (balut)
dengan daging. Sesudah itu Kami jadikan dia makhluk yang baru yakni manusia
sempurna. Maka Maha Berkat (suci Allah) pencipta yang laing baik”. (Al-Mukminun
: 12 – 14).

Kemudian Nabi Muhammad SAW., mengulas ayat
suci tersebut dengan sabdanya : “Bahwasanya
seseorang kamu dihimpun kejadiannya di dalam perut ibu selama 40 hari, kemudian
merupakan alaqah (segumpal darah) seumpama demikian (selama 40 hari), kemudian
mudgatan (segumpal daging) seumpama demikian (selama 40 hari). Kemudian Allah
mengutus seorang Malaikat maka diperintahkan kepadanya (Malaikat) empat
perkataan dan dikatakan kepada Malaikat engkau tulislah amalannya, dan
rezekinya dan ajalnya, dan celaka atau bahagianya. Kemudian ditiupkan kepada
makhluk itu ruh…”
(H.R. Bukhari).

Dari al-Qur’an dan al-Hadits tersebut di
atas, jelaslah bahwa proses perkembangan dan pertumbuhan fisik manusia, tidak
ada bedanya dengan proses perkembangan dan pertumbuhan pada hewan. Semuanya
berproses menurut hukum-ukum alam yang material. Hanya saja pada kejadian manusia,
sebelum makhluk yang dinamakan manusia itu lahir

dari
rahim ibunya, Tuhan telah meniupkan ruh ciptaan-Nya ke dalam tubuh manusia. Ruh
yang berasal dari Tuhan itulah yang dinamakan hakekat manusia. Inilah yang
membedakan manusia dengan hewan, karena Tuhan tidak meniupkan ruh pada hewan. Hakekat
manusia secara umum dijelaskan oleh ayat al-Qur’an yang pertama sekali turun.

Artinya
: “Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menjadikan, menciptakan manusia dari
segumpal darah. Bacalah dan Tuhanmu Maha Pemurah. Mengajar manusia yang tidak
tahu (jangan sekali-kali demikian. Bahkan sesungguhnya manusia itu bersikap
dholim. Apabila ia merasa terkaya (dari Tuhan dalam ajaran-Nya). Sesungguhnya
kepada Tuhanlah kamu akan kembali”. (Q.S. Al-Alaq : 1 – 8).

Menurut Prof. DR. Omar Muhammad Al-Toumy
Al-Syabanya, terdapat beberapa prinsip yang menjadi dasar pandangan Islam
terhadap manusia dalam bukunya “Falsafah Pendidikan Islam”.

Prinsip Pertama. Keyakinan bahwa manusia
adalah makhluk termulia di dalam jagat ini. Dalam hal ini Allah telah
memberikan karunia Nya berupa keutamaan yang membedakannya dengan makhluk lain.
Dengan karunia tersebut. Manusia berhak mendapat penghormatan dari makhluk-makhluk
lain.

Seperti yang difirmankan-Nya dalam al-Qur’an
surat An-Nahl : 14

Artinya
: “Dan Dialah Allah yang menudukkan lautan (untukmu) agar dapat memakan dari
padanya daging yang segar (ikan) dan kamu mengeluarkan dari laut dan supaya
kamu mencari (keuntungan) dari karunia-Nya, dan supaya kamu bersyukur”. (Q.S.
An-Nahl : 14).

Prinsip kedua, kepercayaan akan
kemuliaan dan keutamaan manusia. Manusia diberikan keutamaan lebih daripada
makhluk lainnya. Manusia “dilantik” menjadi khalifah di bumi untuk memakmurkan
bumi ini.

Untuk itu, dibebankan kepada manusia
amanah attaklif dan diberikan pula kebebasan dan tanggung jawab memiliki serta
memelihara nilai-nilai keutamaan.
Keutamaan
yang diberikan karena bangsanya, bukan juga karena warna, kecantikan,
perawakan, harta, daerajat, jenis profesi, kasta sosial, dan ekonominya, melainkan
semata-mata karena iman, taqwa, akhlak, ketinggian akal, dan amalnya.

Selain itu karena kesediaan manusia menimba ilmu pengetahuan
yang berbagai jenis. Juga karena keahlian mencipta serta kemampuan melaksanakan
kerja-kerja akal dalam berbagai bidang. Karena daya mencipta nama dan istilah-istilah
baru pada zamannya. Karena kemampuan menguasai naluri dan nafsu. Manusia mampu
membantu dan berkreasi. Karena manusia sanggup memikul tanggung jawab diri dan
masyarakat. Karena ia dapat menggunakan pengetahuannya serta kepandaiannya,
manusia dapat meningkatkan akhlak serta kelompok sosialnya.

Secara singkat, manusia diberikan status
demikian dikarenakan ciri dan sifat utama yang dikaruniakan Allah kepadanya,
ciri-ciri tersebut tidak diberikan kepada makhluk makhluk lain. Karunia
tersebut berupa penciptaan-Nya sebaik-baiknya
dan seindah ciptaan. Malaikatpun diperintahkan sujud dan menghormatinya.
Manusia dijadikan khalifah di bumi dengan tugas memakmurkannya.

Manusia dibebankan dengan tanggung
jawab, diberikan kebebasan memilih, dan merekam alam walaupun dengan kondisi
fisik yang relatif kecil dan tenaganya terbatas jika dibandingkan dengan langit,
bumi, dan gunung-gunung yang enggan memikul amanah itu. Apapun yang diciptakan
oleh Allah adalah untuk manusia.

Prinsip Ketiga, kepercayaan bahwa
manusia adalah hewan yang berpikir. Bahwa manusia sebagai makhluk sosial yang
berbahasa, dapat menggunakan bahasa sebagai media berpikir dan berhubungan.
Manusia mampu mencipta istilah dan menamakan sesuatu untuk dikenal. Ia mampu
berpikir wajar, dapat menjadikan alam sebagai objek pengaatan, dan arena tempat
menimbulkan perubahan yang diinginkan.

Manusia dapat mempelajari ilmu
pengetahuan, kemahiran, dan kecenderungan baru. Ia bisa beriman kepada yang
ghaib, membedakan antara yang baik dan buruk, serta dapat menahan nafsu
syahwatnya yang liar. Ia bisa menembus realitas untuk mencapai cita-citanya
yang ideal.

Ia mampu membina hubungan sosial dengan
orang lain,
hidup bermasyarakat, menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial yang
bermacam-macam tingkatannya. Ia berdaya untuk bekerja, memproduksi, membina
peradaban, dan menempa kemajuan. Ia pula dapat menyingkapkan rahasia fenomena alam
dan membentuk fenomena tersebut sesuai dengan idealismenya. Lebih jauh lagi ia
bisa menguasai sumber kekuasaan alam.

Prinsip keempat, kepercayaan bahwa
manusia memiliki tiga dimensi yaitu badan, akal, dan ruh. Kepercayaan bahwa manusia
memiliki tiga dimensi seperti “segi tiga” yang sama panjang sisi-sisinya. Ini
adalah dimensi pokok dalam kepribadian manusia.

Kemajuan, kebahagiaan dan kesempurnaan
kepribadian manusia banyak bergantung kepada kekselarasan dan keharmonisan
antara ketiga dimensi pokok tersebut. Sebagai agama fitrah, agama yang seimbang
dan moderat dalam serba-serbi, Islam tidaklah hanya mengakui saja wujud tiga
dimensi pokok tersebut dalam watak manusia, melainkan Islam bertindak
meneguhkan dan memantapkan lagi bentuk wujudnya.

Karena manusia menurut Islam bukan hanya
institusi tubuhnya, atau hanya akal atau hanya ruh tetapi keseluruhan semua
yang setiap unsurnya Saling melengkapi.

Islam tidak dapat menerima materialisme
yang tersisih dari ruh, atau sebaliknya spiritualisme yang terpisah dari
materi. Materi tidak mutlak buruk menurut Islam, sebaliknya spiritualisme tidak
mutlak baik. Yang diakui oleh
Islam adalah persenyawaan yang harmonis antara materi dan ruh.

Menurut Islam, baik golongan spiritual
maupun golongan material masing-masing menzalimi kemanusiaannya, karena bertentangan
dengan tuntutan hidup. Islam tidak dapat membenarkan akal merajalela atau
ilmu-ilmu an-sich
yang menguasai kehidupan tanpa kendali, atau berkembang faham kebendaan yang
sempit. Islam berpendapat bahwa manusia hanya akan maju dengan adanya iringan
akal dan ruh atau ilmu
dan iman.

5 Hal ini ditegaskan Allah dalam
firman-Nya

Artinya
: “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan)
negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan)
duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat
baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi.
Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (Q.S.
Al- Qashash : 77).

Dalam konteks kebutuhan manusia kepada
benda, Rasulullah bersabda : “Badanmu
punya hak tertentu atasmu
”.  Kemudian Beliau
mengatakan lagi : “Sesungguhnya Tuhanmu
punya hak atas kamu, dirimu punya hak atas kamu, keluargamu ada hak atas dirimu
maka berikanlah yang berhak atas haknya
”.

Menurut Islam, dunia adalah ladang
tanaman untuk mendapatkan hasilnya di akhirat. Dan manusia khalifah Allah di bumi.
Tujuan kegiatan ekonomi adalah untuk memakmurkan dunia.

Jika Allah menciptakan manusia tanpa
naluri dan syahwat, maka akan pupuslah manusia dan jika manusia diciptakan
tanpa akal maka akan hancurlah manusia. Jika manusia diciptakan tanpa kebebasan
maka jadilah ibadahnya sebagai sesuatu yang terpaksa dan hilanglah arti
ibadahnya.

Manusia pada dasarnya memerlukan
keimanan kepada zat yang tertinggi dan maha unggul dari dirinya. Karena secara naluri,
kebutuhan manusia akan agama telah ada semenjak lahir, di mana ia membutuhkan
suatu kepastian, ketentraman dan kebahagian. Naluri tersebut ada, tumbuh, dan
berkembang karena didasari pada pertanyaan-pertanyaan itulah yang menggugah
akal untuk berpikir dan mencari jawaban.

Kehausan manusia pada ilmu pengetahuan,
pencarian jawaban terhadap jagat raya, kesemuanya itu tidak mampu dilakukan oleh
manusia tanpa merujuk pada iman, akidah dan wahyu. Semua itu membuktikan bahwa
pada jiwa manusia memang terukir watak dan naluri agama.

Pada hakekatnya, manusia di samping
memiliki kecenderungan beragama ia juga mempunyai kecenderungan berakhlak. Ia
mampu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Pikirannya mampu
menjangkau cara untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut. Karenanya, manusia didefinisikan
sebagai hewan yang memiliki kecenderungan berakal.

Prinsip Kelima, kepercayaan bahwa
manusia dalam pertumbuhannya terpengaruh oleh faktor-faktor warisan dan alam
lingkungannya. Meyakini bahwa manusia dengan seluruh perwatakannya dan ciri
pertumbuhannya adalah hasil pencapaian dua faktor, yaitu faktor warisan dan
lingkungan.

Dua faktor tersebut mempengaruhi dan
berinteraksi dengan manusia sejak manuisa masih merupakan embrio hingga akhir hayatnya.
Meskipun tingkat dan kadar pengaruh keturunan dan lingkungan terhadap masing-masing
manusia berbeda-beda.
Yang dimaksud dengan lingkungan di sini adalah ruang lingkup luar yang berinteraksi
dengan manusia yang menjadi lahan dan beragam bentuk kegiatannya. Dan yang dimaksud
dengan keturunan di sini adalah ciri dan sifat yang diwarisi dari keturunannya
dengan kadar yang berlainan.

Meskipun demikian, betapapun faktor
keturunan bukanlah merupakan sesuatu yang kaku hingga tidak bisa dipengaruhi.
Bahkan terdapat kemungkinan bahwa faktor keturunan ini dapat dilenturkan sampai
batas tertentu.

Prinsip Keenam, kepercayaan bahwa
manusia memiliki motivasi dan kebutuhan. Bahwa sebagai makhluk berakal, manusia
mempunyai kecenderungan, memotivasi, dan kebutuhan baik yang diwarisi maupun
yang diperoleh melalui interaksi sosialnya.

Salah satu ciri manusia adalah daya
kontrol. Kontrol itulah yang menghindarkan diri manusia dari penyelewengan oleh
dorongan jiwanya. Daya kontrol inilah yang menyelamatkan manusia dari
kebinasaan. Meskipun daya kontrol manusia tersebut sudah ada dengan sendirinya
akan tetapi hal itu tidak akan berkembang sendiri tanpa adanya pengaruh luar.

Telah menjadi ketentuan Allah bahwa
manusia mendidik dan mengasuh anaknya untuk menumbuhkan daya kendalinya
(kontrol). Islam mengakui seluruh unsur dan ciri-ciri yang dikandung oleh kepribadian
manusia, tiap unsur dan ciri itu punya peranannya tertentu. Allah membekali
semuanya itu bagi manusia agar dapat hidup, memelihara diri dan keturunannya di bumi, di
samping memakmurkan alam yang telah diserahkan Allah kepadanya.

Prinsip Ketujuh, kepercayaan akan adanya
perbedaan antar manusia. Menyadari bahwa manusia; meskipun dalam beberapa ciri
dan sifat terdapat persamaan karena hubungan

kemanusiaan,
memiliki perbedaan dalam banyak hal. Hal ini
lebih dikarenakan faktor keturunan dan lingkungan yang mempengaruhi.

Manusia berbeda dengan dalam tenaga, perawakan, kesediaan,
sikap, dorongan, tujuan, dan jalan-jalan yang dilaluinya untuk mencapai tujuan.
Perbedaan-perbedaan itulah yang dinamakan perbedaan perseorangan.

Jika dinalisis lebih jauh, maka
sesungguhnya manusia terdiri dari tiga anasir yang saling terkait, yaitu akal,
hati, dan emosi. Jika manusia mampu mengekplorasi ketiganya dengan benar, maka manusia tersebut
akan mendapatkan keluasan wacana, keluasan cakrawala, dan kekayaan hati.

Karena akal membawa manusia pada
pemecahan rahasia-rahasia alam. Teras dan emosi ini ialah iman kepada Allah
SWT. Akal manusia secara alamiah akan membawa pada satu titik keimanan di mana
keimanan merupakan suatu keharusan.

Iman memberikan interpretasi tentang
peraturan yang harmonis yang dapat disaksikan dalam alam semesta. Iman merupakan
keseimbangan wujud yang amat menakjubkan. Persoalan keimanan masih merupakan
misteri dan tanda tanya besar bagi keterbatasan akal manusia.

Dan emosi merupakan bagian yang penting
lainnya dari aspek emosi keagamaan ini. Dengan emosi, manusia akan dibawa pada
keadaan untuk memenangkan kebenaran tersebut. Inti dari semangat dan intuisi
ini adalah cinta kebaikan, rasa kasih sayang, dan bertujuan membahagiakan
seluruh umat manusia.

Prinsip Kedelapan, kepercayaan bahwa
manusia memiliki keluwesan dan selalu berubah. Meyakini bahwa sifat manusia
ialah luwes, lentur (fleksibel), dapat dilenturkan, dibentuk, dan diubah. Ia
mampu untuk menguasai ilmu pengetahuan, beradaptasi dengan adat-adat, nilai,
tendensi, atau aliran baru. Atau sebaliknya, ia dapat meninggalkan adat, nilai,
dan aliran lama dengan cara interaksi sosial baik dengan lingkungan yang
bersifat alam maupun kebudayaan.

Jadi jelaslah, bahwa perbedaan manusia
dan hewan bukan hanya pada derajat komplikasinya tetapi juga terletak pada
perbedaan jenis. Meskipun pada proses perkembangan dan pertumbuhan antara manusia
dan hewan tidak berbeda. Hanya, ketka manusia akan dilahirkan, Tuhan telah
meniupkan ruh ciptaan-Nya. Dijadikan manusia oleh Allah sebagai khalifah. Khalifah
berarti kuasa atau wakil.

Dengan demikian pada hakekatnya manusia adalah kuasa
atau wakil Allah di bumi. Dan di dalam diri manusia terdapat unsur-unsur
ketuhanan, karena dalam proses penciptaannya telah ditiupkan ruh dari Tuhan.
Unsur-unsur ketuhanan itulah
yang membawa manusia pada perbuatan-perbuatan untuk merealisasikan
potensi-potensi yang ada ke dalam tingkah laku keseharian dan perbuatan nyata.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s