Konsep Masyarakat Madani

Wacana masyarakat madani yang sudah menjadi arus
utama dewasa ini, telah menjadi wacana utama dan acuan, termasuk dalam
memikirkan kembali sistem ekonomi Indonesia. Konsep ini mengandung unsur-unsur pemikiran
dan kerangka baru yang telah berkembang secara global, tidak saja di
negara-negara yang sedang berkembang, melainkan juga di negara-negara maju
sendiri yang sudah lama mengenal dan mengembangkan konsep ini.  Karena itu, maka Sistem Ekonomi Indonesia di
era reformasi ini harus memperhatikan wacana masyarakat madani tersebut. Namun,
sistem ekonomi, di samping sistem politik dan sistem sosial-budaya adalah salah
satu komponen dalam masyarakat madani.

Oleh karena itu maka wacana tentang sistem ekonomi
ini juga akan ikut mewarnai corak

masyarakat
madani yang dicita-citakan. Konsep ini mencakup komponen-komponen negara (state),
pasar (market), sektor voluntir (voluntary sector) atau gerakan
baru masyarakat (new social movement) serta individu dan keluarga
(individuals and family). Semua komponen tesrebut dituntut mengembangkan
etos kerja dan kualitas pelayanan lebih baik dan memiliki sikap dan perilaku
yang berintikan pengabdian yang utuh bagi masyarakat (public service
oriented).
Inilah harapan masyarakat madani (civil society)  yaitu masyarakat yang maju, mandiri,
sejahtera dalam suasana berkeadilan dilandasi oleh iman dan taqwa.

Masyarakat madani merupakan istilah bahasa
Indonesia. Muncilnya istilah ’masyarakat madani’ di Indonesia adalah bermula
dari gagasan Dato Anwar Ibrahim, ketika itu tengah menjabat sebagai Menteri
keuangan dan Asisten Perdana Menteri Malaysia, ke Indonesia membawa istilah
”masyarakat madani” sebagai terjemahan  “ civil society”, dalam ceramahnya
pada simposium  nasional dalam rangka Forum Ilmiah pada acara festival
Istiqlal, 26 September 1995.

Konsep
masyarakat madani adalah sebuah gagasan yang menggambarkan maasyarakat beradab
yang mengacu pada nila-inilai kebajikan dengan mengembangkan dan menerapkan
prinsip-prinsip interaksi sosial yang kondusif bagi peneiptaan tatanan
demokratis dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

 

 

Allah SWT memberikan gambaran dari masyarakat madani
dengan firman-Nya dalam Q.S. Saba’ ayat 15:

Sesungguhnya
bagi kaum Saba’ ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka yaitu dua
buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (kepada mereka dikatakan):
“Makanlah olehmu dari rezki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu
kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan yang
Maha Pengampun”.

Ada dua
masyarakat madani dalam sejarah yang terdokumentasi sebagai masyarakaat madani, yaitu:

1) Masyarakat
Saba’, yaitu masyarakat di masa Nabi Sulaiman.

2) Masyarakat
Madinah setelah terjadi traktat, perjanjjian Madinah antara Rasullullah SAW
beserta umat Islam dengan penduduk Madinah yang beragama Yahudi dan beragama
Watsani dari kaum Aus dan Khazraj. Perjanjian Madinah berisi kesepakatan ketiga
unsur masyarakat untuk saling menolong, menciptakan kedamaian dalam kehidupan
sosial, menjadikan Al-Qur’an sebagai konstitusi, menjadikan Rasullullah SAW
sebagai pemimpin dengan ketaatan penuh terhadap keputusan-keputusannya, dan
memberikan kebebasan bagi penduduknya untuk memeluk agama serta beribadah
sesuai dengan ajaran agama yang dianutnya.

 

 

 

 

Ciri-ciri Masyarakat Madani

Ada beberapa
karakteristik masyarakat madani, diantaranya:

1.
Terintegrasinya individu-individu dan kelompok-kelompok ekslusif kedalam
masyarakat melalui kontrak sosial dan aliansi sosial.

2. Menyebarnya
kekuasaan sehingga kepentingan-kepentingan yang mendominasi dalam masyarakat
dapat dikurangi oleh kekuatan-kekuatan alternatif.

3.
Dilengkapinya program-program pembangunan yang didominasi oleh negara dengan
program-program pembangunan yang berbasis masyarakat.

4.
Terjembataninya kepentingan-kepentingan individu dan negara karena keanggotaan
organisasi-organisasi volunter mampu memberikan masukan-masukan terhadap
keputusan-keputusan pemerintah.

5. Tumbuhkembangnya
kreatifitas yang pada mulanya terhambat oleh rejim-rejim totaliter.

6. Meluasnya
kesetiaan (loyalty) dan kepercayaan (trust) sehingga individu-individu mengakui
keterkaitannya dengan orang lain dan tidak mementingkan diri sendiri.

7. Adanya pembebasan
masyarakat melalui kegiatan lembaga-lembaga sosial dengan berbagai ragam
perspektif.

8. Bertuhan,
artinya bahwa masyarakat tersebut adalah masyarakat yang beragama, yang
mengakui adanya Tuhan dan menempatkan hukum Tuhan sebagai landasan yang mengatur
kehidupan sosial.

9. Damai,
artinya masing-masing elemen masyarakat, baik secara individu maupun secara
kelompok menghormati pihak lain secara adil.

10. Tolong
menolong tanpa mencampuri urusan internal individu lain yang dapat mengurangi
kebebasannya.

11. Toleran,
artinya tidak mencampuri urusan pribadi pihak lain yang telah diberikan oleh
Allah sebagai kebebasan manusia dan tidak merasa terganggu oleh aktivitas pihak
lain yang berbeda tersebut.

12.
Keseimbangan antara hak dan kewajiban sosial.

13. Berperadaban
tinggi, artinya bahwa masyarakat tersebut memiliki kecintaan terhadap ilmu
pengetahuan dan memanfaatkan kemajuan ilmu pengetahuan untuk umat manusia.

14. Berakhlak
mulia.

Dari beberapa
ciri tersebut, kiranya dapat dikatakan bahwa masyarakat madani adalah sebuah
masyarakat demokratis dimana para anggotanya menyadari akan hak-hak dan
kewajibannya dalam menyuarakan pendapat dan mewujudkan
kepentingan-kepentingannya; dimana pemerintahannya memberikan peluang yang
seluas-luasnya bagi kreatifitas warga negara untuk mewujudkan program-program
pembangunan di wilayahnya.
Yakni adanya democratic governance (pemerintahan demokratis) yang dipilih
dan berkuasa secara demokratis dan democratic civilian (masyarakat sipil yang
sanggup menjunjung nilai-nilai civil security; civil responsibility dan civil
resilience).
Yakni adanya
democratic governance (pemerintahan demokratis) yang dipilih dan berkuasa
secara demokratis dan democratic civilian (masyarakat sipil yang sanggup
menjunjung nilai-nilai civil security; civil responsibility dan civil
resilience).

Meski Alquran
tidak menyebutkan secara langsung bentuk masyarakat yang ideal namun tetap memberikan
arahan atau petunjuk mengenai prinsip-prinsip dasar dan
pilar-pilar yang terkandung dalam sebuah masyarakat yang baik. Secara faktual,
sebagai cerminan masyarakat yang ideal kita dapat meneladani perjuangan rasulullah
mendirikan dan menumbuh
kembangkan
konsep masyarakat madani di Madinah.

Prinsip
terciptanya masyarakat madani bermula sejak hijrahnya Nabi Muhammad SAW. Beserta para
pengikutnya dari Makah ke Yatsrib. Hal tersebut terlihat dari tujuan hijrah sebagai sebuah
refleksi gerakan penyelamatan akidah dan sebuah sikap optimisme dalam mewujudkan
cita-cita membentuk yang madaniyyah (beradab).

Salah
satu cara untuk mewujudkan masyarakat madani adalah dengan melakukan
demokratisasi pendidikan. Generasi penerus sebagai anggota masyarakat harus
benar-benar disiapkan untuk membangun masyarakat madani yang dicita-citakan.
Masyarakat dan generasi muda yang mampu membangun masyarakat madani dapat
dipersiapkan melalui pendidikan (Hartono, 1999: 55).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Zakat

Zakat adalah
memberikan harta yang telah mencapai nisab dan haul kepada orang yang berhak
menerimanya dengan syarat-syarat tertentu.  Zakat juga berarti kebersihan, setiap pemeluk
Islam yang mempunyai harta cukup banyaknya menurut ketentuan (nisab) zakat, wajiblah
membersihkan hartanya itu dengan mengeluarkan zakatnya.

Di dalam Alquran Allah telah berfirman
sebagai berikut:

Al-Baqarah: 110

 

Artinya:

“Dan Dirikanlah shalat dan tunaikanlah
zakat. dan kebaikan apa saja yang kamu usahakan bagi dirimu, tentu kamu akan
mendapat pahala nya pada sisi Allah. Sesungguhnya Alah Maha melihat apa-apa
yang kamu kerjakan”.

Zakat memiliki
hikmah yang besar, bagi muzakki, mustahik, maupun bagi masyarakat muslim pada
umumnya. Bagi muzakki zakat berarti mendidik jiwa manusia untuk suka berkorban
dan membersihkan jiwa dari sifat kikir, sombong dan angkuh yang biasanya
menyertai pemilikan harta yang banyak dan berlebih.

Adapun harta-harta yang wajib dizakati
itu adalah sebagai berikut:

1. Harta yang
berharga, seperti emas dan perak.

2. Hasil
tanaman dan tumbuh-tumbuhan, seperti padi, gandum, kurma, anggur.

3. Binatang
ternak, seperti unta, sapi, kambing, dan domba.

4. Harta
perdagangan.

5. Harta galian
termasuk juga harta rikaz.

Adapun orang
yang berhak menerima zakat adalah:

1. Fakir, ialah
orang yang tidak mempunyai dan tidak pula berusaha.

2. Miskin,
ialah orang yang tidak cukup penghidupannya dengan pendapatannya sehingga ia
selalu dalam keadaan kekurangan.

3. Amil, ialah
orang yang pekerjaannya mengurus dan mengumpulkan zakat untuk dibagikan kepada
orang yang berhak menerimanya.

4. Muallaf,
ialah orang yang baru masuk Islam yang masih lemah imannya, diberi zakat agar
menambah kekuatan hatinya dan tetap mempelajari agama Islam.

5. Riqab, ialah
hamba sahaya atau budak belian yang diberi kebebasan berusaha untuk menebus
dirinya agar menjadi orang merdeka.

6. Gharim,
ialah orang yang berhutang yang tidak ada kesanggupan membayarnya.

7. Fi
sabilillah, ialah orang yang berjuang di jalan Allah demi menegakkan Islam.

8. Ibnussabil,
ialah orang yang kehabisan biaya atau perbekalan dalam perjalanan yang
bermaksud baik (bukan untuk maksiat).

 

 

 

 

 

KESIMPULAN

Untuk
mewujudkan masyarakat madani dan agar terciptanya kesejahteraan umat maka kita
sebagai generasi penerus supaya dapat membuat suatu perubahan yang signifikan.
Selain itu, kita juga harus dapat menyesuaikan diri dengan apa yang sedang
terjadi di masyarakat sekarang ini. Agar di dalam kehidupan bermasyarakat kita
tidak ketinggalan berita. Adapun beberapa kesimpulan yang dapat saya ambil dari
pembahasan materi yang ada di bab II ialah bahwa di dalam mewujudkan masyarakat
madani dan kesejahteraan umat haruslah berpacu pada Al-Qur’an dan As-Sunnah
yang diamanatkan oleh Rasullullah kepada kita sebagai umat akhir zaman.
Sebelumnya kita harus mengetahui dulu apa yang dimaksud dengan masyarakat
madani itu dan bagaimana cara menciptakan suasana pada masyarakat madani
tersebut, serta ciri-ciri apa saja yang terdapat pada masyarakat madani sebelum
kita yakni pada zaman Rasullullah.

Selain memahami
apa itu masyarakat madani kita juga harus melihat pada potensi manusia yang ada
di masyarakat, khususnya di Indonesia. Potensi yang ada di dalam diri manusia
sangat mendukung kita untuk mewujudkan masyarakat madani. Karena semakin besar
potensi yang dimiliki oleh seseorang dalam membangun agama Islam maka akan
semakin baik pula hasilnya. Begitu pula sebaliknya, apabila seseorang memiliki
potensi yang kurang di dalam membangun agamanya maka hasilnya pun tidak akan
memuaskan. Oleh karena itu, marilah kita berlomba-lomba dalam meningkatkan
potensi diri melalui latihan-latihan spiritual dan praktek-praktek di
masyarakat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s