Pengertian Akhlak

Akhlak dari kata Al-Akhlak, jamak dari Al-khuluq yang
artinya kebiasaan, perangai, tabiat dan agama.

Menurut Al Gazali, kata akhlak sering diidentikkan dengan kata kholqun (bentuk
lahiriyah) dan Khuluqun (bentuk batiniyah), jika dikaitkan dengan seseorang
yang bagus berupa kholqun dan khulqunnya, maka artinya adalah bagus dari bentuk
lahiriah dan rohaniyah. Dari dua istilah tersebut dapat kita pahami, bahwa
manusia terdiri dari dua susunan jasmaniyah dan batiniyah. Untuk jasmaniyah
manusia sering menggunakan istilah kholqun, sedangkan untuk rohaniyah manusia
menggunakan istilah khuluqun. Kedua komponen ini memilih gerakan dan bentuk
sendiri-sendiri, ada kalanya bentuk jelek (Qobi’ah) dan adakalanya bentuk baik
(jamilah). Akhlak yang baik disebut adab. Kata adab juga digunakan dalam arti
etiket, yaitu tata cara sopan santun dalam masyarakat guna memelihara hubungan
baik antar mereka.

Akhlak disebut juga ilmu tingkah laku / perangai (Imal-Suluh) atau Tahzib
al-akhlak (Filsafat akhlak), atau Al-hikmat al-Amaliyyat, atau al-hikmat al-
khuluqiyyat. Yang dimaksudkan dengan ilmu tersebut adalah pengetahuan tentang
kehinaan-kehinaan jiwa untuk mensucikannya. Dalam bahasa Indonesia akhlak dapat
diartikan dengan moral, etika, watak, budi pekertim, tingkah laku, perangai,
dan kesusilaan.

Ruang Lingkup Akhlak

a) Akhlak pribadi

Yang paling dekat dengan seseorang itu adalah dirinya sendiri, maka hendaknya
seseorang itu menginsyafi dan menyadari dirinya sendiri, karena hanya dengan
insyaf dan sadar kepada diri sendirilah, pangkal kesempurnaan akhlak yang
utama, budi yang tinggi. Manusia terdiri dari jasmani dan rohani, disamping itu
manusia telah mempunyai fitrah sendiri, dengan semuanya itu manusia mempunyai
kelebihan dan dimanapun saja manusia mempunyai perbuatan.

b) Akhlak Berkeluarga

Akhlak ini meliputi kewajiban orang tua, anak, dan karib kerabat.

Kewjiban orang tua terhadap anak, dalam islam mengarahkan para orang tua dan
pendidik untuk memperhatikan anak-anak secara sempurna, dengan ajaran –ajaran
yang bijak, islam telah memerintahkan kepada setiap oarang yang mempunyai
tanggung jawab untuk mengarahkan dan mendidik, terutama bapak-bapak dan ibu-ibu
untuk memiliki akhlak yang luhur, sikap lemah lembut dan perlakuan kasih
sayang. Sehingga anak akan tumbuh secara istiqomah, terdidik untuk berani
berdiri sendiri, kemudian merasa bahwa mereka mempunyai harga diri, kehormatan
dan kemuliaan.

Seorang anak haruslah mencintai kedua orang tuanya karena mereka lebih berhak
dari segala manusia lainya untuk engkau cintai, taati dan hormati. Karena
keduanya memelihara,mengasuh, dan mendidik,menyekolahkan engkau, mencintai
dengan ikhlas agar engkau menjadi seseorang yang baik, berguna dalam masyarakat,
berbahagia dunia dan akhirat. Dan coba ketahuilah bahwa saudaramu laki-laki dan
permpuan adalah putera ayah dan ibumu yang juga cinta kepada engkau, menolong
ayah dan ibumu dalam mendidikmu, mereka gembira bilamana engkau gembira dan
membelamu bilamana perlu. Pamanmu, bibimu dan anak-anaknya mereka sayang
kepadamu dan ingin agar engkau selamat dan berbahagia, karena mereka mencintai
ayah dan ibumu dan menolong keduanya disetiap keperluan.

c) Akhlak Bermasyarakat

Tetanggamu ikut bersyukur jika orang tuamu bergembira dan ikut susah jika orang
tuamu susah, mereka menolong, dan bersam-sama mencari kemanfaatan dan menolak
kemudhorotan, orang tuamu cinta dan hormat pada mereka maka wajib atasmu
mengikuti ayah dan ibumu, yaitu cinta dan hormat pada tetangga.

Pendidikan kesusilaan/akhlak tidak dapat terlepas dari pendidikan sosial
kemasyarakatan, kesusilaan/moral timbul didalam masyarakat. Kesusilaan/moral
selalu tumbuh dan berkembang sesuai dengan kemajuan dan perkembangan
masyarakat. Sejak dahulu manusia tidak dapat hidup sendiri–sendiri dan terpisah
satu sama lain, tetapi berkelompok-kelompok, bantu-membantu, saling membutuhkan
dan saling mepengaruhi, ini merupakan apa yang disebut masyarakat. Kehidupan
dan perkembangan masyarakat dapat lancar dan tertib jika tiap-tiap individu
sebagai anggota masyarakat bertindak menuruti aturan-aturan yang sesuai dengan
norma- norma kesusilaan yang berlaku.

d) Akhlak Bernegara

Mereka yang sebangsa denganmu adalah warga masyarakat yang berbahasa yang sama
denganmu, tidak segan berkorban untuk kemuliaan tanah airmu, engkau hidup
bersama mereka dengan nasib dab penanggungan yang sama. Dan ketahuilah bahwa
engkau adalah salah seorang dari mereka dan engkau timbul tenggelam bersama
mereka.

e) Akhlak Beragama

Akhlak ini merupakan akhlak atau kewajiban manusia terhadap tuhannya, karena
itulah ruang lingkup akhlak sangat luas mencakup seluruh aspek kehidupan, baik
secara vertikal dengan Tuhan, maupun secara horizontal dengan sesama makhluk
Tuhan.

Berangkat dari sistematika diatas dengan sedikit modifikasi penulis membagi
pembahasan ruang lingkup akhlak antar lain:

1. Akhlak terhadap Allah SWT

2. Akhlak terhadap Rasullah Swt

3. Akhlak Pribadi

4. Akhlak dalam keluarga

5. Akhlak bermasyarakat

6. Akhl;ak bernagara

Dalam konsep akhlak segala sesuatu dinilai baik atau buruk, terpuji atau
tercela, semata-mata karena syara (Qu’an dan Sunah) yang menilainya demikian.
Namun akhlak dalam ajaran agama tidak dapat disamakan dengan etika, jikqa etika
dibatasi pada sopan santun antar sesame manusia, serta hanya berkaitan dengan
tingkah laku lahiriah.

Pembinaan Akhlak

Pembinaan adalah suatu usaha untuk membina. Membina adalah memelihara dan
mendidik, dapat diartikan sebagai bimbingan secara sadar oleh pendidik terhadap
perkembangan jasmani dan rohani peserta didik menuju terbentuknya kepribadian
yang utama.

Anak didik adalah anak yang masih dalam proses perkembangan menuju kearah
kedewasaan. Hal ini berarti bahwa anak harus berkembang menjadi manusia yang
dapat hidup dan menyesuaikan dari dalam masyarakat, yang penuh dengan
aturan-aturan dan norma-norma kesusilaan. Oleh karena itu perlulah anak di
didik, dipimpin kearah yang dapat dan sanggup hidup menuruti aturan-aturan dan
norma-norma kesusilaan. Jadi maksud dari tujuan pendidikan akhlak atau
kesusilaan adalah memimpin anak setia serta mengerjakan segala sesuatu yang
baik dan meninggalkan yang buruk atas kemauan sendiri dalam segala hal dan
setiap waktu.

Pada masa sekarang ini demoralisasi telah merajalela dalam kehidupan
masyarakat, maka dari itu diperlukan usaha-usaha pendidikan dalam mengupayakan
pembinaan akhlak terutama pada masa remaja, karena pada masa pubertas dan usia
baligh anak mengalami kekosongan jiwa yang merupakan gejala kegoncangan
pikiran, keragu-raguan, keyakinan agama, atau kehilangan agama. Menurut
Al-Gazaly adalah menunjukkan suatu hikmah bahwa anak puber tersebut memerlukan
bekal untuk mengisi kekosongan jiwanya melalui sublimasi dan “way out” dari
problema yang dihindarinya.

Metode Pendidikan Akhlak

Yang dimaksud dengan metode disini ialah semua cara yang digunakan dalam upaya
mendidik. Adapun metode Islam dalam upaya perbaikan terhadap akhlak adalah
mengacu pada dua hal pokok, yakni pengajaran dan pembiasaan. Yang dimaksud
dengan pengajaran adalah sebagai dimensi teoritis dalam upaya perbaikan dan
pendidikan. Sedangkan yang dimaksud dengan pembiasaan untuk dimensi praktis
dalam upaya pembentukan (pembinaan) dan persiapan.

Ali Kholil Abu’Ainin didalam kitabnya : Falsafahtul Tarbiyatul Islamiyahtu
Al-Qur’anil karim” mengemukakan secara panjang lebar tentang metode pendidikan
Islam, yang diringkasnya menjadi 11 (sebelas) macam, yaitu :

1. Pengajaran tentang cara beramal dan pengalaman / ketrampilan.

Metode ini dapat dilakukan melalui ibadah shalat, zakat, puasa, haji dan
ijtihad.

2. Mempergunakan akal

3. Contoh yang baik dan jujur

4. Perintah kepada kebaikan, larangan perbuatan munkar saling berwasiat
kebenaran, kesabaran dan kasih sayang.

5. Nasihat-nasihat

6. Kisah-kisah

7. Tamsil

8. Menggemarkan dan menakutkan atau dorongan dan ancaman.

9. Menanamkan atau menghilangkan kebiasaan.

10. Menyalurkan bakat.

11. Peristiwa-peristiwa yang berlalu.

Menurut al-nahlawi metode pendidikan yang diajurkan, antara lain :

1. Metode Hiwar Qur’ani dan Nabawi

Hiwar (dialog) ialah percakapan silih berganti antara dua pihak atau lebih
mengenai suatu topik, dan dengan sengaja diarahkan kepada satu tujuan yang
dikehendaki (dalam hal ini oleh guru). Dalam percakapan itu bahan pembicaraan
tidak dibatasi, dapat digunakan berbagai konsep sains, filsafat, seni, wahyu,
dll. Kadang-kadang pembicaraan sampai pada satu kesimpulan, kadang-kadang tidak
sampai pada kesimpulan, karena salah satu pihak tidak puas terhadap pendapat
pihak lain. Yang manapun ditemukan hasilnya dari segi pendidikan tidak jauh
berbeda, masing-masing mengambil pelajaran untuk menentukan sikap pada dirinya.

Metode Hiwar pada saat ini masih efektif dipakai dalam belajar mengajar, yakni
sama dengan diskusi pada zaman sekarang ini, dan memang cukup efektif untuk melatih
anak didik lebih mandiri karena mereka dapat berdialog dari hasil bacaan mereka
sendiri pada tema yang telah di tentukan oleh gurunya.

2. Metode kisah Qur’ani dan Nabawi

Dalam pendidikan Islam, terutama pendidikan agama Islam (sebagai suatu bidang
studi), kisah sebagai suatu metode pendidikan amatlah penting, untuk dapat
merenungkan kisahnya, yang menyentuh hati umat manusia. Kisah Qur’ani adalah
untuk mendidik perasaan keimanan.

3. Metode amtsal (perumpamaan)

Metode ini banyak kita temui dalam Al-qur’an, antara lain :

Dalam surah Al-Baqarah ayat 17. Perumpamaan orang-orang kafir itu adalah
seperti orang yang menyalakan api.

مثلهم كمثل الذي استو قدنارا فلما اضأت ما حوله ذهب الله بنورهم وتركهم فى ظلمت لايبصرون

Dalam surah Al-Ankabut ayat 41 Allah mengumpamakan sesembahan atau Tuhan orang
kafir dengan sarang laba-laba, Perumpamaan orang-orang yang berlindung kepada
selain Allah atau seperti laba-laba yang membuat rumah, padahal rumah yang
paling lemah adalah rumah laba-laba.

مثلهم الذين اتخذوا من دون الله اوليأ كمثل المنكبوت اتخذت بيتا وان اوهن البيوت لبيت المنكبوت لوكانوا يعلمون

Kebaikan dari metode ini adalah :

a) Memudahkan siswa memahami konsep yang abstrak.

b) Perumpamaan dapat merangsang kesan terhadap makna yang tersirat dalam
perumpamaan tersebut.

c) Merupakan pendidikan agar bila menggunakan perumpamaan haruslah logis dan
mudah dipahami.

d) Perumpamaan Qur’ani dan Nabawi memberikan motivasi kepada pendengarnya untuk
berbuat amal baik dan menjauhi kejahatan.

4. Metode Teladan

Secara psikologis anak menang senang meniru, tidak saja yang baik, yang
jelekpun ditirunya. Dalam teori tabula rasa (John Lock dan Francis Bacon),
bahwa anak yang baru dilahirkan dapat di umpamakan sebagai kertas putih bersih
yang belum ditulisi, segala kecakapan dan pengetahuan manusia timbul dari
pengalaman yang masuk melalui alat indra.

5. Metode Pembiasaan

Inti dari pembiasaan adalah pengulangan, metode mendidik anak murid pada masa
kini. Yang menetapkan bahwa dengan cara mengulang –ngulangi pengalaman dalam
berbuat sesuatu dapat meninggalkan kesan-kesan yang baik dalam jiwanya, dan
dari aspek inilah anak akan mendapatkan kenikmatan pada waktu
mengulang-ngulangi pengalaman yang baik itu, berbeda dengan
pengalaman-pengalaman tanpa melalui praktik.

6. Metode Ibrah dan mau’idah

Ibrah ialah suatu kondisi psikis yang menyampaikan manusia kepada intisari
sesuatu yang disaksikan, yang dihadapi, dengan menggunakan nalar, yang
menyebabkan hati mengakuinya. Adapun Mu’idah ialah nasihat yang lembut yang
diterima oleh hati dengan cara menjelaskan pahala atau ancamannya.

7. Metode Targib dan Tarhib

Targib ialah janji terhadap kesenangan, kenilematan akhirat yang disertai
bujukan. Tarhib ialah ancaman karena dosa yang dilakukan.

Sedangkan menurut Prof. Dr.H.M Arifin Med, bahwa dalam Al-Qur’an dan sunah nabi
dapat ditemukan metode-metode untuk pendidikan agama, antara lain :

a) Perintah / larangan

b) Cerita tentang orang-orang yang taat dan orang-orang yang berdosa (kotor)
serta akibat-akibat dari perbuatannya.

c) Peragaan, misalnya manusia disuruh melihat kejadian dalam alam ini, dengan
melihat gunung, laut, hujan, tumbuhan dan sebagainya.

d) Instruksional (bersifat pengajaran), misalnya menyebutkan sifat-sifat orang
yang beriman, begini dan begitu dan lain sebainya.

e) Acquisition (self : aducation), misalnya menyebutkan tingkah laku orang yang
munafik itu merugikan diri mereka sendiri, dengan maksud manusia jangan menjadi
munafik dan mau mendidik dirinya sendiri kearah iman yang sesungguhnya.

f) Mutual Education (mengajar dalam kelompok), misalnya nabi mengajar sahabat
tentang cara-cara sembah yang dengan contoh perbuatan yang
mendemonstrasikannya.

g) Exposition (dengan menyajikan) yang didahului dengan motivasion (menumbuhkan
minat) yakni dengan memberikan muqodimah lebih dahulu, kemudian baru
menjelaskan pelajarannya.

h) Function (pelajaran dihidupkan dengan praktek) misalnya nabi mengajarkan
tentang hukum-hukum dan syarat-syarat haji, kemudian nabi bersama-sama untuk
mempraktekannya.

i) Explanation (memberi penjelasan tentang hal-hal yang kurang jelas) misalnya
nabi memberi penafsiran ayat-ayat Al-Qur’an, seperti ayat-ayat yang
memerintahkan bersembahyang dan sebagainya.

Konsep pendidikan modern saat ini sejalan dengan pandangan al-Gazaly tentang
pentingnya pembiasaan melakukan suatu perbuatan sebagai suatu metode
pembentukan akhlak yang utama, terutama karena pembiasaan itu dapat berpengaruh
baik terhadap jiwa manusia, yang memberikan rasa nikmat jika diamalkan sesuai
dengan akhlak yang telah terbentuk dalam dirinya.

Begitu juga metode mendidik anak pada masa kini yang menetapkan bahwa dengan
cara mengulang-ulangi pengalaman dalam berbuat sesuatu dapat meninggalkan
kesan-kesan yang baik dalam jiwanya, dan dari aspek inilah anak akan
mendapatkan kenikmatan pada waktu mengulang-ulangi pengalaman yang baik itu,
berbeda dengan pengalaman yang diperoleh dengan tanpa melalui praktek, maka
kesan yang ditinggalkan adalah jelek.

Pandangan Al-Gazaly tersebut sesuai dengan pandangan ahli pendidikan Amerika
Serikat, John Dewey, yang mengatakan “Pendidikan moral itu terbentuk dari
proses pendidikan dalam kehidupan dan kegiatan yang dilakukan oleh murid secara
terus menerus”.

Oleh karena itu pendidikan akhlak menurut John Dewey adalah pendidikan dengan
berbuat dan berkegiatan (learning by doing) yang terdiri dari pada tolong
menolong, berbuat kebajikan dan melayani orang lain, dapat dipercaya dengan
jujur. John Dewey berpendapat bahwa akhlak (moralitas) tidak dapat diajarkan
kepada anak dengan melalui cerita-cerita yang dikisahkannya, akan tetapi hanya
dapat diajarkan melalui praktek yang manusiawi saja. Sehingga kebajikan dan
moralitas dan pengertian yang terkandung didalam cerita-cerita tidak mungkin
dipindahkan (transformasikan) kedalam jiwa anak untuk menjadi akhlaknya, yang
kemudian berinteraksi dengan anak lain berdasarkan atas pemeliharaan
keutamaan-keutamaannya, akhlak (moralitas) hanya dapat diajarkan dengan cara
membiasakan dengan perbuatan praktis.

Tujuan Pembinaan Akhlak

Akhlak dalam ajaran agama tidak dapat disamakan dengan etika, jika etika
diatasi pada sopan santun antar sesama manusia, serta hanya berkaitan dengan
tingkah laku lahiriah.

Akhlak lebih luas maknanya daripada yang telah dikemukakan terlebih dahulu
serta mencakup pula beberapa hal yang tidak merupakan sifat lahiriah. Misalnya
yang berkaitan dengan sikap batin maupun pikiran. Akhlak diniah (agama)
mencakup berbagai aspek, dimulai dari akhlak terhadap Allah, hingga kepada
sesama makhluk (manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan, dan benda-benda tak bernyawa).

a) Akhlak Terhadap Allah

Titik tolak akhlak terhadap Allah atau pengukuran dan kesadaran bahwa tiada
Tuhan melainkan Allah. Dia memiliki sifat-sifat terpuji, demikian Agung sifat
terpuji itu, yang jangankan manusia, malaikat pun tidak akan mampu menjunjungkan
hakikatnya.

b) Akhlak Terhadap Sesama Manusia

Banyak sekali rincian yang dikemukakan Al-Qur’an berkaitan dengan perlakuan
terhadap sesama manusia. Petunjuk mengenai hal ini bukan hanya dalam bentuk
larangan melakukan hal-hal negatif seperti membunuh, menyakiti badan, atau
mengambil harta hati dengan jalan menceritakan aib seseorang dibelakangnya,
tidak peduli aib itu benar atau salah, walaupun sambil memberikan materi kepada
yang disakiti hatinya itu.

قول معروف ومغفرة خير من صدقة يتبعهاازى والله غني حليم ( البقره 2/: 263)

Artinya : “Perkataan yang baik dan pemberian maaf lebih baik daripada sedekah
yang disertai dengan sesuatu yang menyakitkan (perasaan sipenerima)”.

(Q.S. Al-Baqarah/2 : 263).

Disisi lain Al-Qur’an menekankan bahwa setiap orang hendaknya didudukan secara
wajar. Nabi Muhammad SAW, misalnya dinyatakan sebagai manusia yang sempurna,
namun dinyatakan pula sebagai Rosul yang memperoleh penghormatan melebihi
manusia lain. Karena itu Al-Qur’an berpesan kepada orang-orang

HAKEKAT AKHLAQ

Hakikat pengertian
budi pekerti atau akhlak menurut Imam Al-Ghozali dalam kitabnya, Ihya
‘Ulumuddin ialah suatu bentuk dari jiwa yang benar-benar telah meresap dan dari
situlah timbul berbagai perbuatan secara spontan, tanpa dibuat-buat, dan tanpa
membutuhkan pemikiran untuk bertindak. Apabila dalam dirinya timbul perbuatan
baik dan terpuji menurut pandangan syariat dan akal pikiran, maka dinamakan
akhlakul karimah atau budi pekerti yang luhur. Sebaliknya apabila yang timbul
adalah kelakuan-kelakuan yang buruk maka dinamakan akhlakul mazmumah atau budi
yang tercela.

Akhlak bukanlah perbuatan secara fisik. Akhlak lebih kepada jiwa yang tidak
secara konkret. Perumpamaan dari pernyataan ini adalah apabila orang yang dasar
budinya pemurah tapi ia kebetulan tidak memiliki apa-apa untuk didermakan dan
ia tidak bisa disebut sebagai orang yang kikir atau pelit. Sebaliknya, ada
orang yang memiliki sifat dasar kikir, namun dia suka memberi karena ada suatu
dorongan seperti ria maka orang yang seperti ini tidak bisa disebut sebagai
orang yang dermawan. Akhlak bukan pula suatu kekuatan atau daya untuk melakukan
sesuatu. Akhlak lebih cenderung kepada fitrah manusia yang tentunya dipengaruhi
oleh pendidikan dan lingkungan.

Kesempurnaan akhlak tercipta dan terwujud dalam rupa batin seorang insan. Ada
empat syarat yang harus diseimbangkan dalam penyempurnaan keindahan batin.
Keempat syarat tersebut yaitu : pertama, daya ilmu,,kedua, kekuatan
mengendalikan amarah.ketiga, kekuatan mengendalikan hawa nafsu, dan terakhir,
menyeimbangkan ketiga sifat tersebut.

Daya ilmu menjadi sempurna bila kita bisa membedakan hal yang benar dan hal
yang salah. Bila daya ilmu sudah tumbuh, dengan sendirinya akan melahirkan
hikmah kibijaksanaan yang merupakan puncak dari budi yang luhur. Dengan hikmah
kebijaksanaan, amarah dan hawa nafsu akan lebih terkendali sesuai dengan
batas-batas syariat agama. Tenaga untuk menyeimbangkan ketiga hal tersebut
berada dibawah petunjuk akal dan syariat.

Allah swt berfirman :

“ Dan barang siapa yang diberi hikmah, sungguh telah diberi kebijaksanaan yang
banyak ( Al-Baqoroh : 269 ).

Dalam hal ini akal merupakan penasihat yang jujur sedangkan daya adalah
pelaksana yang sesuai dengan petunjuk daya pikir. Marah adalah tempat
terlaksananya petunjuk akal. Untuk bisa menguasai amarah, diperlukan latihan
pengendalian diri dan tidak menuruti emosi. Sama halnya dengan hawa nafsu. Maka
barang siapa yamg memiliki semua sifat tersebut secara seimbang, dialah orang
yang berakhlak secara mutlak. Jika hanya sebagian yang seimbang, maka hanya
termasuk berakhlak baik dalam hal-hal tertentu saja atau hanya cantik sebagian.

Adapun sumber dari segala akhlak yaitu, pertama, hikmah yaitu keadaan jiwa
seseorang yang bisa menemukan hal-hal yang benar dan menjauhi hal-hal yang salah,
kedua, keberanian yaitu keadaan seseorang yang memiliki sifat marah yang
dituntun oleh akal pikiran untuk terus maju atau mengekangnya, ketiga,
kelapangan dada yaitu suatu usaha untuk mendidik nafsu syahwat dengan akal
pikiran dan syariat, dan terakhir adalah keadilan yaitu keadaan jiwa ynag dapat
membimbing amarah dan nafsu sesuai dengan hikmah kebijaksanaan.

Sifat mulia lainnya hanya cabang dari empat sifat tersebut dan tidak ada orang
yang bisa mencapai kesempurnaan ahlak kecuali Rosululloh saw. Namun, kita
sebagai umat Muhammad haruslah berusaha untuk mendekati sifat kesempurnaan itu.

Pentingnya Pendidikan Akhlak

Narkoba mengancam generasi muda kita.
“pil setan” dan “bubuk iblis” ini telah beredar sedemikian mudahnya hingga
tidak hanya ditemui di gang-gang tempat mangkalnya para bandit, melainkan juga
telah memasuki lorong-lorong kelas tempat calon pemimpin bangsa ini dididik.
Pelajar yang seharusnya menyandang tas dan buku dengan berpakaian rapi,
mendadak kabur di jalanan dengan menyandang pedang dan kelewang. Apa yang
terjadi? Sudah pasti mereka lagi tawuran.

Dijurusan lain kita melihat, eksploitasi
seksual telah membudaya di tengah-tengah kita sehingga tidak ada lagi rasa malu
dan harga diri. Bentuk klasik yang namanya prostitusi mewabah tidak hanya
digedung-gedung mewah tampatnya para kaum elite, tetapi juga di trotoar jalan
tempat singgahnya kaum pailit. Sensualitas yang ditampilkan, tidak lagi
di ruang tertutup yang menyeleksi para undangannya, melainkan telah dijajakan
di pasar publik melalui beragam kemasan bisnis yang disebut iklan, model, dunia
hiburan, serta lainnya yang diperdebatkan atas nama seni dan kebebasan
ekspresi. Tak urung, pemimpin redaksi majalah dewasa play boy saja
mendapat angin segar dengan vonis bebas yang dibacakan Bapak Hakim dalam sidang
yang terhormat. Padahal di persidangan lain, tak jarang kita mendengar seorang
kakek memperkosa cucunya, seorang ayah “meniduri” anaknya, dukun melakukan
tindakan cabul, sodomi, atau pesta seks dikalangan pelajar, mahasiswa, bahkan
pejabat, yang tergiur hanya karena pandangan menantang dalam kemasan pornografi
dan pornoaksi.

Kita arahkan pandangan ke sudut lain,
maka terlihat ada pembunuhan sadis dan perampokan tragis. Kehidupan di bawah
garis kemiskinan dengan ekonomi sulit yang melilit, menyembunyikan nurani suci
dan belas kasih demi sejengkal perut untuk bertahan hidup. Tidak ada lagi
tempat yang aman, karena pencopet, pencuri, penggarong, perampok, atau apapun
namanya bertebaran dipinggir jalan, terminal, bus kota, hingga rumah-rumah
kita. Anehnya, hal ini juga merebak dikalangan elite yang hidup di atas garis
kekayaaan, dengan nama yang lebih keren yakni korupsi, kolusi dan nepotisme.

Kemudian seorang ibu tega menjual
anaknya, perdagangan bayi telah menjadi lahan untuk mengais rezeki.
“Perbudakan” modern atas nama tenaga kerja, babu atau pembantu meninggalkan
jejak-jejak luka di fisik dan di hati karena hidup mereka di bawah cengkeraman
kejam sang majikan.

Itulah sekilas daftar masalah yang kita
jumpai dalam tiap sudut kehidupan ini. Banyak lagi yang bisa kita daftarkan
sebagai anggota tumpukan kejahatan. Bagi para analis dan pemerhati, sudah
seharusnya pemerintah dan kita semua berusaha meningkatkan kehidupan sosial
ekonomi rakyat, atau agar para aparat lebih bersikap tegas kepada para penjahat
dengan meningkatkan sistem keamanan, atau mungkin sudah saatnya tertib politik
disadari oleh para pejabat yang menggunakan kekuasaan sewenang-wenang. Namun jika
kita cermati dengan lebih jeli dan dalam, maka negeri ini telah luluh lantak di
hantam badai krisis yang lebih dahsyat dari moneter, yaitu krisis akhlak
(moralitas).

URGENSI PENDIDIKAN AKHLAK

Akhlak (moral), dikatakan oleh Sayid
Mujtaba Lari merupakan faktor terpenting yang mempengaruhi perkembangan
masyarakat, apakah akan menuju kemajuan atau malah tersungkur kepada lembah
kehancuran.[1]
Untuk itu, sebuah kenyataan penting jika empat belas abad yang lalu, seorang
manusia sempurna di utus dengan tujuan inti untuk menyempurnakan akhlak
manusia, “sesungguhnya aku di utus untuk meneyempurnakan akhlak manusia”,
begitu sabda agung kenabian Muhammad saw

Sabda di atas mengindikasikan bahwa
pembentukan akhlak merupakan dimensi puncak terpenting dari kesempurnaan
manusia. Secara umum hal ini dapat kita benarkan. Sebab, lazimnya kita menilai
manusia dari akhlaknya hingga ukuran-ukuran fisikal terpental jauh dari
penilaian. Misalnya, jika ada orang yang tampan atau cantik, tetapi berperangai
buruk, maka secara otomatis kita akan mencibirkannya. Begitu juga dengan orang
yang berilmu pengetahuan, cerdas dan pintar, akan tetapi berakhlak rendah, kurang
ajar dan tidak tahu sopan santun, maka kita akan cenderung membenci dan
menghinanya. Namun sebaliknya, ada orang yang biasa-biasa saja dari fisiknya,
tidak terlalu cerdas otaknya, tetapi berkhlak mulia, maka kita akan senang
bergaul dan berinteraksi dengannya. Jadi, sederhananya dapat disimpulkan nilai
kemanusiaan terletak pada akhlaknya.

Karena itu, bagi penulis konsepsi
pendidikan akhlak merupakan kunci sukses tarbiyah islamiyah (pendidikan
Islam). Sebab, dimensi akidah, dimensi ibadah (syariah), dan dimensi
akhlak adalah trikonsepsi struktur ajaran Islam. Akan tetapi akhlak menempati
posisi inti sebagai puncak dari pembuktian akidah dan pelaksanaan ibadah. Insan
kamil
(manusia paripurna) yang merupakan orientasi tertinggi kemanusiaan
dicirikan secara khas dengan karakter akhlak al-karimah (akhlak mulia).

Merujuk pada sejarah pemikiran, maka
persoalan akhlak telah menjadi salah satu pembahasan serius para pemikir dunia,
baik di Timur maupun di Barat, pra Islam maupun pasca Islam. Yunani, yang
merupakan salah satu ikon peradaban dunia telah meninggalkan jejak-jejak
pemikiran para ilmuannya mengenai akhlak seperti yang dapat kita temui pada
ungkapan-ungkapan Socrates, Plato maupun Aristoteles. Socrates dan Plato
menuangkan pemikirannya dalam kitab Republic-nya sedangkan Aristoteles
secara konfrehensif membahas dalam buku Nichomachian Ethic yang sangat
terkenal itu.

Dalam sejarah Islam Klasik kita mengenal
sederet filosof besar yang mengukir sejarah seperti al-Farabi, Ibnu Sina, Ibnu
Miskawaih, al-Ghazali hingga Mulla Sadra. Di abad kontemporer ini kita mengenal
Allamah Thabathabai, Murtadha Muthahhari, Imam Khumaini, dan juga Sayid Mujtaba
Musawi Lari. Sederetan tokoh mutakhir ini, dikatakan sebagai pelanjut tradisi
ilmiah filsafat Islam, yang banyak menulis buku dan telah diterjemahkan dan
disebarkan dalam berbagai bahasa seperti Persia, Arab, Inggris, Perancis, Urdu,
Jerman, dan tentunya juga Indonesia.

Dengan antusiasme yang tinggi, para
pemikir Islam menelaah sejarah perkembangan masyarakat dalam dinamika maju dan
mundurnya. Beragam studi dilakukan, bahkan tak jarang hingga membandingkan
antara peradaban Barat dan Islam. Diantara objek kajian yang dengan serius
digeluti adalah persoalan pertumbuhan dan perkembangan akhlak serta spiritual
manusia dengan ragam dialektisnya dalam kehidupan sosial, budaya, politik,
ataupun pergumulan ekonomi kemasyarakatan. Kesungguhan dan ketekunan para ulama
pewaris nabi yang luar biasa dalam mengembangkan pokok-pokok pikiran demi
merekonstruksi konsepsi pendidikan akhlak dari abad ke abad, telah menorehkan
tinta emas dalam tradisi pengetahuan teoritis dan pengamalan praktis dalam
kontruksi peradaban Islam yang gemilang.

MAKNA AKHLAK

Secara etimologis, akhlak berasal dari
bahasa Arab yaitu al-khuluq yang berarti al-sajiyyah (karakter), ath-tabhi
(tabiat atau watak), al-adah (tradisi atau kebiasaan), al-din
(agama), al-muruah (harga diri). Sedangkan menurut pandangan para ulama
Islam, meskipun beragam dalam menyusun defenisinya namun setidaknya ada
defenisi umum yang dirumuskan, yaitu akhlak merupakan karakter yang telah
tertanam (malakah) dalam jiwa manusia sehingga mengarahkannya dengan
mudah untuk melakukan tindakan-tindakan. Misalnya, Allamah Thabathabai
mendefenisikan ilmu akhlak sebagai ilmu yang membahas pembawaan-pembawaan
manusia yang berkaitan dengan kekuatan-kekuatan tumbuh-tumbuhan, kekuatan
binatang, dan kekuatan kemanusiaan untuk membedakan keutamaan dari keburukan
agar manusia berhias dan bersifat dengannya sehingga mendapatkan kesempurnaan
kebahagiaan ilmiahnya.

Adapun Imam al-Ghazali mendefenisikan
akhlak sebagai bentuk jiwa (nafs) yang terpatri, yang darinya muncul
perbuatan-perbuatan dengan mudah tanpa membutuhkan pemikiran dan pertimbangan.
Apabila suatu bentuk memunculkan beragam perbuatan indah dan terpuji
berdasarkan akal dan syariat, maka ia dinamakan akhlak yang terpuji (akhlak
mahmudah). Sebaliknya, jika darinya muncul beragam perbuatan buruk, ia
dinamakan akhlak tercela (akhlak mazmumah).

Selanjutnya, Imam al-Ghazali menjelaskan
perbedaan akhlak dengan perbuatan (fi’il), kemampuan (qudrah),
dan pengetahuan (ma’rifah). Menurutnya, khulq (akhlak) bukanlah
perbuatan (fi’l). Karena, banyak orang yang khulq-nya dermawan
tetapi tidak mendermakan harta, mungkin lantaran kehabisan harta atau halangan
tertentu. Terkadang pula, khulqnya bakhil (pelit) tetapi ia
mendermakan harta, mungkin karena motif-motif tertentu atau riya. Khulq juga
tidak sama dengan kemampuan (qudrah), sebab, kemampuan dinisbahkan pada
menahan diri dan memberi. Tetapi, terhadap keduanya yang berlawanan ini
keadaannya sama. Setiap orang diciptakan dengan fitrah dalam kondisi yang mampu
memberi dan menahan. Itu tidak menyebabkan munculnya khulq kebakhilan
dan khulq kedermawanan. Khulq juga bukanlah pengetahuan (ma’rifah),
sebab, pengetahuan berkaitan dengan kebaikan dan keburukan sekaligus pada
tingkatan yang sama. Akan tetapi khulq merupakan malakah yakni
bentuk yang dengannya jiwa bersiap-siap untuk memunculkan sikap menahan diri
atau memberi. Jadi, khulq adalah bentuk jiwa dan rupa batiniah.

Dengan demikian akhlak merupakan sifat
psikologis (ruhaniah) dan bukan suatu tindakan atau perbuatan, meskipun al-amal
al-ikhtiari
merupakan manifestasi luarnya. Akhlak juga bukanlah hasil dari
sebuah kebetulan, karena ia berupa pembawaan yang melekat dalam jiwa (malakah).
Maka, malakah harus memiliki fondasi sebagaimana bangunan memerlukan
fondasi. Adapun fondasi-fondasi akhlak ialah naluri, keturunan, lingkungan,
pendidikan, dan kebiasaan.

SUMBER-SUMBER AKHLAK

Allamah Thabathabai menjelaskan bahwa
manusia memiliki pembawaan-pembawaan yang berhubungan dengan tiga domain
kekuatan yang terhimpun dalam diri manusia, yaitu kekuatan tumbuh-tumbuhan,
kekuatan kebinatangan, dan kekuatan kemanusiaan. Ketiga kekuatan ini yang
mengarahkan manusia pada dimensi moralitas (akhlak terpuji) atau juga akhlak
rendah yang tercela Sedangkan Imam Khumaini, menyebutkan
tiga daya atau fakultas batin yang penting dan menjadi sumber bagi seluruh malakah
(watak/karakter) baik maupun buruk dan dasar bagi seluruh bentuk-bentuk gaib yang
tinggi. Ketiga daya itu adalah al-quwwah al-wahmiyyah (daya imajinasi
atau pencitraan), al-quwwah al-ghadabiyyah (daya amarah), al-quwwah
al-syahwiyyah
(daya syahwat) Ketiganya, lanjut Imam
Khumaini, bisa menjadi pasukan Sang Maha Pengasih yang akan membawa kebahagiaan
dan keberuntungan bagi manusia jika semuanya mengikuti akal sehat dan ajaran
para nabi Allah yang mulia, sebaliknya jika dibiarkan apa adanya, maka semua
daya itu akan menjadi pasukan setan.

Jiwa (nafs) adalah esensi surgawi
yang menggunakan tubuh dan memanfaatkan berbagai organ lain untuk mencapai
maksud dan tujuannya. Tetapi, perlu diketahui bahwa jiwa (nafs) bukanlah
sesuatu yang kosong hampa tanpa memiliki potensi-potensi keruhanian, melainkan
suatu wujud inti dari keberadaan manusia yang unik, luar biasa, dan penuh daya
yang tak terbatas untuk senantiasa menyempurna dengan cara menyerap asma-asma
ketuhanan, atau pula sebaliknya menjadi hina karena lebih mementingkan sisi
kebinatangannya. Seperti disebutkan al-Quran bahwa manusia adalah sebaik-baik
ciptaan, namun dapat pula ia dilemparkan ke dalam jurang kecelakaan yang penuh
kehinaan, “Sesungguhnya kami menciptakan manusia dengan sebaik-baik bentuk.
Kemudian kami campakkan ia ketempat yang serendah-rendahnya”
(Q.S. At-Tin:
4-5)

Penting diperhatikan, bahwa potensi diri
kemanusiaan bermata ganda yaitu mengandung sisi negatif dan positif sekaligus.
Hal itu dikarenankan, jiwa manusia memiliki kecakapan yang meliputi keduanya.
An-Naraqi menyebutkan empat kecakapan utama yang dimiliki oleh jiwa, yaitu :

1. Kecakapan akal (al-quwwah
al-aqliyah
)—bersifat malaikat.

2. Kecakapan amarah (al-quwwah
al-ghadabiyah
)—bersifat buas.

3. Kecakapan nafsu (al-quwwah
ash-shahwiyah
)—bersifat binatang.

4. Kecakapan imajinasi (al-quwwah
al-wahmiyyah
)—bersifat kejam.

Fungsi keempat kecakapan itu sangatlah
berguna bagi kehidupan manusia. Sebab, apabila manusia tidak memiliki akal,
tidak akan mungkin dapat membedakan yang baik dan yang buruk, benar dan salah.
Apabila tidak memiliki kekuatan amarah, dia tidak dapat melindungi dirinya dari
serangan, dan apabila kekuatan seksual tidak ada, keberadaan spesies manusia
akan punah. Sedangkan, jika tidak memiliki kekuatan imajinasi, maka dia tidak
dapat menggambarkan (visualize) hal-hal yang universal dan hal-hal yang
partikular dan membuat kesimpulan dari gambaran tersebut.

Dari keempat daya atau kecakapan di atas,
diakui bahwa, kecakapan akal merupakan potensi termulia dan terbaik. Ia menjadi
cahaya bagi jiwa untuk menjadi suci, sempurna dan bahagia. Jika, akal menjadi
raja yang mengendalikan semua kecakapan lainnya, maka manusia akan mencapai
perkembangan ruhani yang menjadikan dirinya dekat kepada Allah swt. Namun, jika
akal menjadi tawanan dari ketiga daya di atas, maka saat itu akal akan
bertindak menyalahi tabiat aslinya yang selalu benar. Misalnya, jika kekuatan
akal mengabdi kepada kekuatan ghadab, syahwat, atau wahmiyyah,
maka seseorang akan menjadi tiran di muka bumi, sehingga akan bertabiat
sewenang-wenang, menebar kerusakan, menjadi teman setan, menghalalkan segala
cara, dan mengingkari kebaikan serta mengerjakan kejahatan. Jadi, keempat daya
ini menjadi sumber-sumber penting bagi perilaku manusia.

METODE PENDIDIKAN AKHLAK

Pendidikan akhlak merupakan pendidikan
yang memiliki posisi inti dalam struktur ajaran Islam. Nilai penting tersebut
dapat kita rujuk melalui dua pendekatan yaitu pendekatan naqliyah
(normatif) dan pendekatan aqliyah (ilmiah).

Secara normatif, al-Quran dan sunnah Nabi
Muhammad SAW memberikan penegasan gamblang akan keharusan manusia untuk berakhlak
mulia yang dimunculkan dalam refleksi tindakan baik itu kata-kata, perbuatan,
maupun sikap. Manusia yang dalam dirinya ada manifestasi ilahiah yang kemudian
diaktualisasikan melalui kemanusiaan sempurna (insan kamil) dengan
cerminan akhlak mulia akan mendapatkan pujian dari Allah SWT. Dalam al-Quran,
Allah memuji hamba-Nya dengan begitu indahnya :

“Dan sesungguhnya kamu benar-benar
berbudi pekerti yang agung”
(Q.S. al-Qalam: 4)

“Sungguh pada diri Rasululah ada suri
tauladan yang baik.”
(Q.S. )

“Demi jiwa serta penyempurnaanya
(ciptaannya). Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan
ketakwaan. Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu. Dan
sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.
(Q.S. al-Syam: 7-10).

Ayat-ayat di atas menegaskan bahwa
kemuliaan manusia terletak pada kemuliaan akhlak, sehingga layak mendapatkan
pujian Allah SWT. Bukankah, kemualiaan itu terletak pada ketakwaan? Benar,
karena ketakwaan adalah pokok akhlak. Menariknya ayat tersebut yang diidentifikasi
untuk memuji Rasulullah SAW, menggunakan kata pujian dengan salah satu sifat
Allah SWT, yaitu al-azhim (Maha Agung). Ayatullah Hasan Zaseh Amuli
mengatakan :

“Berakhlak adalah
merealisasikan dan menyifati diri dengan hakikat akhlak tersebut, bukan
pengetahuan tentang makna atau konsep seperti yang diperoleh dengan merujuk
pada kamus; bahwa rahim (kasih sayang) adalah begini dan athuf
adalah begini. Dengan demikian, jelaslah makna hadits Rasulullah saw, “Sesungguhnya
Allah memiliki 99 nama. Barangsiapa yang memahami dan mengamalkannya, maka ia
akan masuk surga”.
Maksudnya, berakhlak dengan hakikat nama-nama tersebut,
sebagaimana disebutkan dalam hadits lainnya dari Rasulullah saw, “Sesungguhnya
Allah mempunyai 99 akhlak. Barangsiapa berakhlak dengannya, maka ia masuk
surga.”
Sebab, hadis-hadis saling menjelaskan satu sama lain, sebagaimana
sebagian al-Quran membicarakan sebagian yang lainnya.”

Kemuliaan akhlak juga merupakan tujuan
pengutusan para nabi. Dalam salah satu haditsnya, Rasulullah menegaskan bahwa
sebenarnya ia diutus Allah dengan tujuan untuk menyempurnakan akhlak manusia,
“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak manusia”
Ini berarti,
dengan berakhlak mulia manusia sedang menyerap sifat-sifat Tuhan dan kemudian
ia manifestasikan (pancarkan) dalam kehidupannya sehari-hari dikomunitasnya.
Menurut Majid Rasyid Pur, sabda Rasulullah SAW tersebut bermakna umum sekaligus
spesifik. Hal ini karena kata buitstu yang berarti ‘aku diutus’
menunjukkan pemaknaan umum akan kenabian dan kerasulan yang berarti utusan
Tuhan, namun di sisi lain, nabi juga menegaskan bahwa dirinya tabah dan sabar
menghadapi berbagai kesulitan, caci maki, hinaan masyarakat Arab musyrik, dan
lain-lain. Semua itu beliau tempuh demi menyempurnakan akhlak mulia. Adapun
kalimat “untuk menyempurnakan” dapat dipahami bahwa seluruh agama dan
ajaran ilahi bertujuan untuk membenahi akhlak manusia.

Dengan demikian, dimensi spiritual
kenabian bukanlah diperoleh secara kebetulan dan untung-untungan, melainkan
dengan kerja keras dengan mengerahkan seluruh potensinya sehingga menggapai maqam
kedekatan dengan Allah swt hingga dinyatakan layak untuk mengemban misi
kenabian. Perjuangan nabi Muhammad saw yang begitu kukuh untuk tetap
mempertahankan dirinya pada jalur kesucian ditengah badai kehancuran masyarakat
Arab Mekah, menjadikan nabi sebagai sosok yang terlatih secara sadar untuk
senantiasa berbicara, bersikap dan bertindak dengan cara-cara yang beradab,
penuh wibawa, dan akhlak mulia. Kebiasaan nabi untuk senantiasa melakukan aktivitas
berguna dan baik, menjadikan dirinya sebagai eksistensi kemanusiaan tersempurna
diseluruh jagat raya.

Muhammad Mahdi bin Abi Dzar An-Naraqi
dalam kitabnya yang terkenal Jami’ al-Saadat menyebutkan bahwa akhlak
yang dihasilkan dari malakah (kecakapan, pembawaan) jiwa yang dengan
latihan dan praktek berulang-ulang sehingga dapat dengan mudah dimunculkan
dapat beragam aktivitas akan terinternalisasi secara kuat di dalam diri manusia
sehingga tidak mudah untuk dirusak. Menurut An-Naraqi, suatu watak tertentu (malakah)
mungkin muncul dalam diri manusia karena salah satu alasan berikut ini :

a. Dandanan (make-up)
alami dan buatan; hal ini menampilkan bahwa beberapa orang memiliki sifat sabar
sementara lainnya mudah tersinggung dan tidak percaya diri.

b. Kebiasaan; terbentuk karena
kegiatan dan tindakan khusus yang dilakukan secara berulang-ulang dan
berkelanjutan guna membentuk watak tertentu. Latihan dan usaha yang dilakukan
secara sadar; yang jika dilakukan secara berkelanjutan dalam jangka waktu yang
cukup lama akan memungkinkan untuk membentuk watak tertentu.

Jadi, jika ingin memperoleh akhlak mulia,
maka seseorang dianjurkan untuk mengulang-ulang perbuatan baik dan amal saleh
secara berkesinambungan terus menerus sehingga menjadi kebiasaan yang tertanam
di dalam jiwa dan sulit untuk dihilangkan.

Allamah Thabathabai memaparkan tiga
metode pendidikan untuk meraih kesempurnaan dan perbaikan akhlak, yaitu :

1. Mendidik akhlak dengan
tujuan-tujuan keduniawian yang baik. Hal ini berarti berhubungan dengan pujian
dan celaan di hadapan manusia

2. Mendidik akhlak melalui
tujuan-tujuan ukhrawi yang mengindikasikan pada pahala dan dosa, ganjaran dan
siksaaan di yaumil akhir kelak.

3. Mendidik manusia secara
deskriptif dan ilmiah dengan menggunakan ilmu pengetahuan (ma’arif) yang
tidak menyisakan subjek ketercelaan.

Ketiga cara ini handaknya digunakan
sesuai dengan kondisi dan situasi yang tepat sesuai jenjang dan kemampuan
individu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s