Sepintas cerita sintel

Di sebuah gunung es yang sangat jauh dari desa tempat tinggalku, aku berjalan sendiri menerjang badai. Dengan berbekal tongkat yang selalu menemaniku dalam setiap langkah yang ku lalui. Saat itu badai begitu besar, hingga apa yang ku lihat hanyalah kabut putih dan salju yang terus menghujaniku.

Ku lihat kiri-kanan ku hanyalan bantalan putih tebal, lalu tiba-tiba seseorang dengan tongkat panjang yang berujung lancip melompat ke arah ku dan menyerangku dari belakang. Dengan rasa terkejut, aku membalikkan badanku dan ku tahan serangan itu dengan
tongkat yang ku bawa. Tongkatku seketika terlempar karena tak mampu menahan pukulan darinya. Aku yang tersungkur langsung membalikkan badan dan mencoba menghindari serangannya yang berikutnya. Serangan keduanya dapat aku hindari, namun saat itu aku terpojok di sebuah bebatuan yang membuatku tak dapat menghindari serangan darinya lagi dan terpaksa ku harus menahan tombaknya dengan kedua tanganku.

Terjadi aksi perebutan tombak antara aku dan dia, tenagaku yang lemah membuat ku dapat dengan mudah diangkatnya, lalu saat aku di angkatnya keatas, ku ambil belati di pinggangku dan ku tancapkan di pundaknya. Dia melemparkanku beserta tombak yang ia gunakan, dia ambil belati yang menancap di pundaknya lalu mencoba menyerangku dengan belati itu. Ketika ia mendekat, ku coba untuk meraih tombak yang ia lemparkan tadi. Saat itu pula aku arahkan tombak itu padanya dan tombaknya pun tertancap di dadanya.

Dia mati seketika. Aku yang lelah karena perjalanan dan pertempuran yang ku alami, terbaring dengan lemah. Dari kejauhan, aku melihat sebuah rumah penduduk yang terlihat berpenghuni. Ku coba tuk bangun dan berusaha untuk mendatangi rumah tersebut, dan tentu saja tombak yang tadi digunakan oleh orang yang menyerangku, ku bawa untuk berjaga-jaga. Langkah demi langkah terasa sangat berat bagiku. Hingga di pertengahan perjalanan, aku terjatuh dan tak sadarkan diri.

“Mata tombak ini memiliki masa lalu yang kelam”.

Terdengar secara samar-samar seseorang berbicara. Perlahan aku buka mataku dan ku lihat seorang kakek-kakek tua sedang di depanku, merawatku, dan bercerita padaku tentang tombak yang ku bawa.

“Banyak menumpahkan darah yang tidak bersalah” lanjut kakek itu. “Kau orang yang bodoh untuk berkelana sendirian tanpa persiapan apa-apa”, dia ambilkan aku semangkuk air yang di masaknya di perapian kecil di tengah rumahnya, atau mungkin ku sebut saja tenda indiannya, “terima kasih” sahut ku, “Kau beruntung darahmu masih mengalir” jawabnya. Aku tidak mengerti apa yang dikatakan kakek ini. Namun disana ku melanjutkan pembicaraanku dengannya.

“Apa yang membuatmu datang ke daratan penjaga gerbang?”

“Aku mencari seseorang”

“Seseorang yang kau sayangi? Arwah keluargamu?”

….“Seekor naga” jawabku.

“pencarian yang sangat  berbahaya bagi seorang pemburu” ungkapnya.

Ku ceritakan padanya kehidupanku di desa, ku ceritakan bahwa aku adalah orang yang hidup sendirian, tanpa teman, sahabat, ataupun keluarga. Hingga saat ku menemukan seekor naga kecil yang terjatuh ke atap rumah seseorang. Ku hampiri dan ku siapkan belati di pinggangku untuk membunuhnya, namun ku urungkan niatku saat melihat sayapnya yang terluka dan wajahnya yang terlihat sangat ketakutan. Ku ulurkan tangan ku untuk menolongnya. Saat itu lah kami menjadi sahabat yang tak terpisahkan. Ku beri dia nama “scales”, hari demi hari kami lalui bersama, dan seiring dengan berlalunya waktu, sayapnya pun kembali pulih.

Suatu hari, hari yang takkan pernah ku lupakan seumur hidup ku. Saat itu, aku dan scales sedang mengejar ayam milih tetangga untuk dimakan.

“ayo! Tangkap dia scales” seru ku.

Namun scales dan ayamnya menghilang, saat ku cari, ayam tersebut jatuh dari atas kepalaku dan whoossh~~, ku lihat scales menyemburkan api di mulutnya. Terkejut dan bahagia, itulah perasaanku saat itu. Ku ajak scales ke menara untuk terbang dan menangkap burung-burung disana. Namun tak disangka munculah seekor naga besar yang menyerang dan menangkap scales-ku yang kecil mungil itu. Aku sangat panik dan ku coba tuk menyelamatkannya, tapi apa daya, naga itu sangat besar, terkena kibasan ekornya saja aku sudah terpental jauh. Ku lihat wajah scales yang ketakutan di bawa oleh sang naga. Marah bercampur kekhawatiran, membuat ku berteguh hati untuk membawa scales kembali walau apapun risikonya.

Tanpa menunggu hari esok, akupun langsung bergegas mengambil tongkatku dan tanpa persiapan apapun, aku pergi untuk membawa scales-ku kembali. Batuan terjal, padang pasir, hutan bambu, binatang buas, badai, dan apapun yang ku temui di perjalanan tak membuatku mengurungkan niat ku. Hingga sampailah di gunung es ini dan di selamatkan oleh sang kakek.

“Aku rasa ku telah gagal” ungkap ku.

“Kau hanya gagal untuk melihat … ini adalah daratan naga, kau sangat dekat dari yang kau bayangkan” kata si kakek.

Sesuai yang di katakan si kakek, tak lama setelah ku meninggalkan kediamannya, aku menemukan sebuah gua besar yang merupakan sarang dari sang naga. Perlahan dan mengendap-endap akupun meyelinap masuk kedalam gua tersebut. Kulihat seekor naga besar sedang memakan daging buruannya. Namun tak ku hiraukan, yang ku cari hanyalah scales, sahabatku satu-satunya yang selalu menemaniku selama ini.

Setelah ku cari-cari, akhirnya aku menemukan scales di atas sebuah sarang naga dan terlihat sedang tidur. Ku hampiri dan ku coba tuk membangunkannya. Namun aneh, scales yang terbangun dan terkejut berteriak seakan tak mengenaliku. Hal itu membuat si naga besar marah dan menyerangku.

“scales!!” seru ku untuk memanggil scales. Namun scales seakan tak mengenaliku, dia berlari menjauh dan tak menghiraukan ku. Akhirnya terjadilah pertempuran hebat antara aku dan si naga besar. Api menyambar-nyambar dari mulutnya. Saat dia menyerangku, ku melompat dan ku tusuk kepalanya dengan tombak yang ku bawa. Naga semakin marah dan berhasil melemparkanku hingga ku hampir tak sadarkan diri. Naga itu melompat menerkamku, namun anehnya naga itu tidak langsung memakanku, dia mengendus-endus diriku, hal itu memberikanku kesempatan untuk mengambil tombak yang tergeletak disebelahku dan ku sayatkan di dadanya, setelah dadanya tersayat, tanpa pikir panjang aku tancapkan tombak itu di jantungnya.

Naga itu tersungkur dan aku pun tanpa segan-segan menghampiri dan akan membunuhnya. Namun betapa terkejutnya aku, ekspresi sang naga yang ketakutan mengingatkanku saat ku pertama bertemu scales. Ku lihat di sayapnya terdapat luka mirip luka pada sayap scales. Seketika itu aku tersadar bahwa naga yang ku serang itu adalah scales, sahabat baikku. Ku lihat darah mengalir deras dari dadanya dan melewati bawah kakiku. Ku lihat wajahku di pantulan darah yang ternyata sudah mulai keriput dan beruban. Sungguh tidak terasa ternyata waktu yang ku tempuh untuk menemukan scales sangatlah lama. Hingga ku tak sadar bahwa aku telah menua dan scales telah menjadi naga yang dewasa.

Tapi kesadaranku terlambat, scales telah banyak berlumuran darah dan akhirnya dia menghembuskan nafas terakhirnya. Di depan mataku, sahabat terbaikku yang selama ini aku cari, yang selama ini ingin ku selamatkan, mati dengan tanganku sendiri. Penyesalan yang begitu besar dalam diriku. Ingin ku menangis tak kuasa menahan penyesalan ini. Andai aku menyadarinya lebih awal.

“SCALES…!!!!“

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s